Artikel Terbaru

Puasa Hubungan Suami Istri

[Sumber Foto: reckycookie.blogspot.com]
Puasa Hubungan Suami Istri
3 (60%) 2 votes

HIDUPKATOLIK.com Romo, istri saya menolak melakukan hubungan suami istri selama masa Prapaskah ini. Saya protes keras, tetapi istri saya memberikan alasan perlunya pertobatan dalam bentuk “puasa” hubungan suami-istri. Apakah memang ada ajaran Gereja bahwa pada masa Prapaskah, tidak diijinkan untuk melakukan hubungan suami-istri? Mohon penjelasan.

Rafael Ponijan, Malang

Pertama, tidak ada ajaran Gereja yang melarang pasangan suami-istri untuk melakukan hubungan suami-istri selama masa Prapaskah. Gereja memandang perkawinan itu sebagai suci, malahan perkawinan antara dua orang yang sudah dibaptis adalah sebuah sakramen. Sebagai konsekuensi, maka hubungan suami-istri yang dilakukan dalam kerangka relasi suami-istri tersebut juga dipandang sebagai suatu yang suci. Allah bahkan menggunakan hubungan suami-istri itu sebagai sarana penciptaan generasi berikutnya.

Masa Prapaskah adalah masa pertobatan, masa tirakat untuk mempersiapkan diri ikut serta merayakan kebangkitan Tuhan. Untuk itu, umat Katolik melakukan puasa, pantang, menambah doa dan kegiatan amal. Puasa dan pantang terutama diarahkan untuk melepaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk, untuk menanggalkan dari keterlekatan duniawi agar kita hidup lebih bebas untuk Tuhan. Saya berharap bahwa istri Bapak tidak memandang seksualitas itu sebagai sesuatu yang jelek atau bahkan jahat, sehingga menjadi salah satu sasaran berpuasa. Jika ternyata istri Bapak mempunyai pandangan yang negatif tentang hubungan suami-istri, tentu hal ini perlu segera diluruskan. Pandangan negatif yang demikian tidak sesuai dengan ajaran Gereja.

Kedua, dalam praktik agama Islam, memang ada larangan untuk melakukan hubungan suami-istri pada saat sedang berpuasa. Larangan ini berlaku tidak untuk seluruh masa puasa, tetapi berlaku hanya pada saat sedang berpuasa. Karena itu, antara saat berbuka sampai dengan saat sahur, tidak dilarang untuk melakukan hubungan suami-istri. Para istri bahkan terikat kewajiban untuk melayani suami. Apakah mungkin istri Bapak mempunyai latar belakang agama Islam?

Ketiga, bisa saja sepasang suami-istri Katolik secara sukarela mencapai kesepakatan untuk menahan diri dengan “berpuasa” dari hubungan suami-istri. Praktik semacam ini haruslah didasarkan pada pandangan yang positif tentang perkawinan dan hubungan suami-istri, dan kehendak baik untuk memperdalam ungkapan pertobatan. Karena praktik semacam ini menyangkut dua pihak, maka perlu ada kesepakatan bersama dari kedua pihak secara sukarela. Tidak boleh ada pemaksaan sepihak.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*