Artikel Terbaru

Beato Jacob Gapp SM (1897-1943): Martir Guillotine, Korban Nazi

Beato Jacob Gapp SM (1897-1943): Martir Guillotine, Korban Nazi
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comSemula ia ikut wajib militer. Ketika menjadi imam, ia gencar menentang kekejaman para tentara Nazi. Menurutnya, tidak mungkin seorang Kristen anti Yahudi.

Seorang pria berusia 46 tahun digiring menuju halaman Penjara Plötzensee, Berlin, Jerman. Ia tak melawan. Matanya seolah menatap ajal yang perlahan akan menghampiri. Di halaman penjara berdiri tegak guillotine. Guillotine adalah alat eksekusi mati yang dirancang oleh Joseph Ignace Guillotin (1738-1814) dan mulai tenar pada masa Revolusi Perancis. Eksekusi mati dengan guillotine dinilai paling cepat
untuk menghabisi nyawa manusia tanpa memberi ruang untuk rasa sakit.

Pria itu digiring empat orang Geheime Staatspolizei atau Ges tapo, tentara Nazi. Di depan guillotine ia disuruh tengkurap dengan leher diletakkan di antara celah kayu yang membentuk lubang seukuran leher manusia. Tepat di atasnya tergantung sebuah pisau raksasa dengan tali sebagai kendali. Sadar akan ajal yang kian dekat, pria itu berdoa, “Tuhan, ini sulit tetapi terimalah nyawaku.” Pemimpin Gestapo segera memerintahkan supaya tali kendali dilepaskan. Pisau besar meluncur ke bawah, menerjang leher pria itu. Kepalanya lepas dari tubuhnya dan jatuh ke dalam keranjang yang terletak di bagian depan tiang guillotine.

Itulah kisah tragis kematian Jacob Gapp, seorang imam asal Austria. Ia dieksekusi mati dengan guillotine karena tegas menentang pandangan dan perlakuan Adolf Hitler (1889-1945) dan pengikutnya terhadap orang-orang Yahudi.

Wajib Militer
Jacob Gapp lahir di Wattens, 26 Juli 1897, dari keluarga petani sederhana. Kini, Wattens masuk wilayah Tyrol, Austria. Keluarganya menjalani kehidupan dengan serba kekurangan. Ken dati demikian, kehidupan rohani keluarga ini justru tumbuh subur. Kidung Maria, Magnificat menjadi salah satu doa yang ia daraskan saban hari.

Putra ketujuh pasangan Martin Gapp dan Antonia Wach ini tumbuh sebagai anak yang saleh. Sejak belia, Jacob sudah bercita-cita menjadi imam. Usai tamat Sekolah Dasar tahun 1910, ia masuk sekolah milik Ordo Fransiskan di Hall, dekat Tyrol. Datang dari keluarga miskin,
sering membuat Jacob sulit mendapat teman. Apalagi kemampuan akademiknya tak sebagus rekan sejawat. Tapi kehadirannya tetap disukai karena bisa mencairkan suasana sekolah yang ketat dengan aturan.

Sayang, keceriaan Jacob berubah muram ketika pecah Perang Dunia I (1914-1918). Pasca perang ini, lahirlah Nazi atau Nasional Sosialisme, sebuah ideologi totalitarian pimpinan Hitler di Jerman. Hitler memakai cara kejam untuk menegakkan kekuasaan dengan Politik Lebensraum (ruang hidup). Ekspansi kekuasaan pun diperluas.

Salah satu negara yang diduduki Hitler adalah Austria. Program wajib militer (wamil) diterapkan. Jacob pun menjalani wamil. Pada Mei 1915, ia ditugaskan di Front, Torino, Italia. Da lam tugas itu, ia terluka pada 4 April 1916. Untuk pengorbanan ini, Jacob di anugerahi Medali Perak Keberanian Kelas II. Pada 4 November 1918, ia diinternir sebagai tawanan perang di Riva del Garda, dan baru dibebaskan pada 18 Agustus 1919.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*