Artikel Terbaru

Istri Kecanduan Sinetron

Young woman watching television, rear view (Ist).
Istri Kecanduan Sinetron
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang baik, Saya Mathew dari Bekasi. Saya telah menikah 15 tahun dan dikaruniai dua anak. Perkawinan kami sebenarnya baik-baik saja. Tetapi akhir-akhir ini, saya sedikit resah dan kecewa dengan istri saya. Betapa tidak, setelah pulang kantor, istri saya langsung menyalakan televisi dan mulai mencari sinetron. Kegiatan nonton ini terkadang sampai larut malam. Sepertinya, istri saya sudah sangat hafal jadwal tayang sinetron di televisi. Hal ini mengakibatkan kebersamaan dalam keluarga kami terganggu, seperti kesempatan makan bersama dengan anak-anak. Apa yang harus saya buat agar bisa membatasi hobi baru istri saya ini? Di satu sisi, saya tidak mau mengecewakannya tetapi di sisi lain, saya ingin suasana kebersamaan dalam keluarga kembali lagi. Mohon pencerahannya.

Mathew, Bekasi

Bapak Mathew yang sangat sayang kepada anak dan istri. Kami dapat memahami situasi yang Bapak alami. Tentu saja sangat mengganggu jika perhatian istri semuanya habis hanya untuk bekerja dan menonton sinetron ketimbang memperhatikan anak-anak dan Anda.

Televisi memang sebuah media hiburan paling populer saat ini. Agar menarik, semua acara yang ditayangkan, di kemas sedemikian rupa sehingga banyak orang tertarik untuk menonton. Problemnya adalah banyak orang terjebak dengan situasi ini sehingga melupakan tugas-tugas utama mereka.

Sejauh tontonan yang dilihat dapat menghibur dan berguna serta dapat mengatur waktu, tentu hal ini tidak menjadi masalah. Namun, jika seseorang menjadi terlarut dan menjadi kecanduan, tentu akan menjadi problem. Terkait hal ini, ada beberapa usulan yang bisa Anda lakukan.

Pertama, sebagai pasangan hidup, Anda memiliki hak menegur istri untuk membatasi hobinya menonton sinetron. Anda perlu mengingatkan bahwa tugas orangtua adalah mendidik dan memperhatikan anak-anak. Perkembangan psikologis anak mendekati remaja adalah masa penting untuk memahami jatidirinya karena banyak terjadi perubahan fisik dan psikis yang
dialami.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*