Artikel Terbaru

Ayah Marah Anak Perempuannya Suka Selfie

(Dok. HIDUP)
Ayah Marah Anak Perempuannya Suka Selfie
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, saya Ibu Tina asal Manado. Saya telah menikah 15 tahun dan dikaruniai dua anak; perempuan (18) dan laki-laki (15). Akhir-akhir ini, suami saya sangat sensitif soal foto selfie. Bahkan ia sempat memukul anak perempuan kami karena memasukkan foto selfie di Facebook (FB) dengan gaya bibirnya dimajukan seperti mengecup sesuatu. Foto itu membuat suami saya sangat marah karena menurutnya, foto-foto selfie seperti itu tidak layak dipublikasikan. Menurut saya, sebenarnya foto-foto di album FB anak kami biasa-biasa saja, tetapi akhirnya suami saya melarangnya. Saya sendiri bingung apakah harus mendukung suami ataukah anak kami. Saya juga bingung memberi penjelasan kepada anak kami. Mohon bantuan dan masukan bagi kami. Terima kasih.

Tina, Manado

Ibu Tina yang sedang galau, terimakasih atas pertanyaan inspiratif ini. Sebenarnya apa yang dibingungkan ibu juga banyak dirasakan keluarga lain, berkaitan dengan adanya media sosial FB yang dapat menjadi alat komunikasi positif dan efektif, tapi juga menjadikan tempat komunikasi negatif, yaitu dapat memancing keributan, baik antara suami-istri, orangtua-anak, maupun dengan orang lain.

Keributan antara suami dengan putri Ibu tentang foto selfie yang ditayangkan di FB merupakan hal yang wajar terjadi dalam keluarga. Namun menjadi tidak wajar bila terjadi keributan berlarut-larut sehingga hubungan keluarga tidak harmonis lagi atau menegatifkan FB sehingga menjadikan anak/keluarga kurang gaul.

Dalam arti ini, kami tidak bisa menyalahkan suami maupun putri Ibu, karena mereka tentunya memiliki alasan-alasan tersendiri. Suatu hal yang dipandang wajar, bahwa putri Ibu yang berusia 18 tahun, berdasarkan kacamata psikologis, pada dasarnya emosi remaja seusia itu masih labil atau mudah bergejolak, sehingga cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan, serta masih suka mencontoh model atau yang menjadi idolanya, bahkan kadang belum tahu mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Maka, perlu pengawasan, bimbingan, dan pengarahan.

Di sinilah peran orangtua sangat diperlukan. Karena itu, suami Ibu juga tidak bisa disalahkan karena rasa khawatir terhadap anaknya; terlebih bila perilaku anaknya diekspose di media seperti FB, yang dapat diakses semua orang. Memang dengan gaya bibirnya dimajukan seperti mengecup sesuatu, bagi ibu atau orang lain merupakan hal yang wajar, namun di sisi lain, ada orang yang berpersepsi berbeda seperti suami Ibu.

Berkaitan dengan kasus ini, sebenarnya jauh-jauh hari tidak akan terjadi apabila Ibu dan suami saling berkomunikasi dalam mengasuh putra-putri Anda. Tak ada kata terlambat untuk membangun komunikasi dengan suami dalam mendidik anak-anak.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*