Artikel Terbaru

Kawan Lama Indonesia-Vatikan

Presiden Sukarno bersama Pro Nunsius Apostolik Pertama Indonesia Mgr Salvatore Pappalardo.
[NN/Dok.HIDUP]
Kawan Lama Indonesia-Vatikan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comJalinan diplomatik Indonesia – Vatikan telah terajut lama. Nunsius Apostolik hadir memperkuat kolegialitas para uskup dan Gereja lokal dengan Paus.

Senin setelah Minggu Palma lalu, Paus Fransiskus menerima Surat Kepercayaan dari Presiden Joko Widodo yang dibawa Duta Besar Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan Antonius Agus Sriyono. Dalam pertemuan dengan Paus selama 20 menit, Agus Sriyono menegaskan hal-hal yang perlu diutamakan dalam meningkatkan relasi Indonesia-Vatikan. Umat Paroki St Bartolomeus Taman Galaksi, Keuskupan Agung Jakarta ini juga secara resmi mengundang Paus Fransiskus bertandang ke Indonesia. Dalam sejarah relasi diplomatik Indonesia-Vatikan, dua Paus pernah berkunjung ke Indonesia yakni Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus II.

Hubungan diplomatik Indonesia-Vatikan telah terjalin hampir 70 tahun. Negara Vatikan menjadi salah satu negara di daratan Eropa yang pertama kali mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia. Tak heran, selang dua tahun sejak Proklamasi Kemerdekaan RI, tepatnya 6 Juli 1947, Paus Pius XII mengangkat Uskup Agung Tituler Misthia, Mgr Georges-Marie-Joseph-Hubert-Ghislain de Jonghe d’Ardoye MEP sebagai Delegatus Apostolik untuk Indonesia. Hal ini menjadi jawaban beberapa Vikaris di Indonesia yang meminta Takhta Suci Vatikan mengirimkan Delegatus Apostolik pada 1946.

Mgr d’Ardoye menginjakkan kaki di Jakarta pada 27 Juli 1947. Lantaran belum memiliki kediaman yang resmi, Mgr d’Ardoye tinggal di sebuah hotel selama satu bulan. Setelah sempat berpindah-pindah tempat tinggal, akhirnya Mgr d’Ardoye menempati sebuah rumah di Koningsplein Oost No.18. Mgr d’Ardoye tinggal di rumah itu sejak 6 Desember 1947. Sehari kemudian diadakan upacara pengibaran bendera Vatikan untuk menandai rumah resmi Delegatus Apostolik. Berkat donasi Superior Jenderal Ursulin (OSU), rumah itu dibeli sebagai kediaman resmi wakil Bapa Suci di Indonesia pada 14 Mei 1949. Pemberkatan rumah digelar 15 Oktober 1949. Semenjak hari itu, kediaman Wakil Kepausan tidak pernah berpindah, kecuali saat bangunan dipugar pada 1965-1966.

Duta Paus
Tugas utama Nunsius Apostolik atau yang kerap disebut Duta Besar Vatikan ialah mewakili Paus dan Takhta Suci Vatikan. Artinya, ia pertama-tama menjadi wakil Paus, bukan sebagai Kepala Negara-Kota Vatikan, tetapi sebagai Kepala Gereja Universal. Karena, sebelum Negara Kota Vatikan lahir pada 1929, Paus sudah mengutus para duta ke berbagai tempat. Duta Paus untuk Gereja lokal biasa disebut Delegatus Apostolik. Ia tak memiliki fungsi diplomatik dengan otoritas sipil atau pemerintah negara di mana ia ditugaskan. Namun terkadang Delegatus Apostolik tetap diperlakukan layaknya korps diplomatik.

Di Indonesia, Mgr d’Ardoye, mula-mula hanya berfungsi sebagai Delegatus Apostolik. Meski demikian, ia hadir mewakili Paus saat upacara penyerahan kedaulatan Indonesia bersama Duta Besar 10 negara lain pada 28-29 Desember 1949. Ia menatap peluang kerja sama diplomatik Vatikan-Indonesia. Alhasil, Vatikan mengakui kedaulatan Indonesia pada 4 Januari 1950.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*