Artikel Terbaru

Tabernakel Kosong

Tabernakel Kosong
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPada Kamis Putih yang lalu beredar tulisan bahwa sejak awal upacara Kamis Putih, tabernakel harus kosong. Setahu saya, sejak dulu tabernakel baru dikosongkan sesudah komuni. Mana yang benar? Sejak kapan terjadi perubahan itu? Apa maknanya?

JB. Andriyanto Surjadi, Jakarta

Pertama, memang benar bahwa dalam peraturan liturgi Kamis Putih yang lama, altar dan tabernakel dikosongkan sesudah Mis Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih selesai. Pengosongan ini hendak melambangkan Yesus yang menyepi dalam keprihatinan bersama para murid-Nya di Taman Getsemani. Di situ Yesus mengalami pergulatan batin dan meminta para murid berjaga dan berdoa bersama dengan Dia. Berdoa dan berjaga bersama Yesus inilah yang kita lakukan sekarang sebagai Tuguran sesudah Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih. Tabernakel kosong pada akhir Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih menunjukkan suasana prihatin dan tirakat para murid Yesus dalam menyertai Yesus dengan berjaga dan berdoa di Taman Getsemani.

Kedua, “Tabernakel Kosong” sejak awal upacara Kamis Putih memang merupakan peraturan liturgis yang “baru”, tetapi sebenarnya sudah lama ditetapkan. Peraturan liturgis itu dinyatakan dalam Surat Perayaan Paskah dan Persiapannya No. 48: “Sebelum perayaan tabernakel harus kosong sama sekali. Hosti untuk komuni kaum beriman harus dikonsekrir dalam perayaan kurban ini.” Surat PPP ini sudah diterbitkan Kongregasi untuk Ibadat di Roma pada 16 Januari 1988, sehingga bisa dikatakan bahwa peraturan liturgis itu sudah ada sejak lama, 28 tahun yang lalu. Memang Surat PPP itu baru diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia pada Februari 2012 sebagai Seri Dokumen Gerejani No. 71. Karena itu, cukup banyak umat di Indonesia merasakan peraturan liturgis ini sebagai sesuatu yang baru (diketahui). Sangat mungkin bahwa di banyak tempat di Indonesia, peraturan liturgis ini belum diketahui sama sekali dan karena itu belum dilaksanakan.

Ketiga, Tabernakel Kosong sejak awal perayaan Kamis Putih hendak menekankan makna Kamis Putih sebagai saat terjadi untuk pertama kali perayaan Ekaristi atau Misa. Tabernakel kosong mengingatkan bahwa “belum ada” perayaan Ekaristi. Perjamuan Malam Terakhir pada Kamis Putih itulah yang melahirkan perayaan Ekaristi pertama kali. Karena itulah, dalam nomor yang sama ditegaskan bahwa “hosti untuk komuni kaum beriman harus dikonsekrir dalam perayaan kurban ini”. Penegasan ini hendak menekankan makna Kamis Putih sebagai saat kelahiran perayaan Ekaristi.

Memang Gereja sudah lama mengajarkan bahwa Kamis Putih adalah saat lahir Sakramen Ekaristi, tetapi peletakan lambang melalui Tabernakel Kosong ini “baru saja” dilakukan. Diharapkan bahwa lambang Tabernakel kosong ini akan membantu umat semakin menghayati dan menghargai Kamis Putih sebagai saat kelahiran Sakramen Ekaristi.

Keempat, konsekuensi praktis peraturan liturgis ini ialah bahwa semua hosti yang sudah dikonsekrir harus dipindah ke tempat lain sebelum perayaan Kamis Putih itu dimulai. Tempat ini bukanlah tempat Tuguran, tetapi merupakan tabernakel sementara. Hosti suci yang disimpan ini boleh dibagikan untuk komuni pada upacara Jumat Suci. Jumlahnya harus diperkirakan cukup untuk umat yang hadir.

Konsekuensi praktis lain ialah bahwa pada saat masuk Gereja sebelum upacara Kamis Putih, umat tidak perlu berlutut menghormati Sakramen Mahakudus, karena tabernakel sudah kosong. Tentu Lampu Tuhan juga harus dimatikan. Sebagai ganti berlutut, umat bisa membungkuk sebagai tanda hormat kepada salib. Perubahan ini perlu disosialisasikan kepada umat, sehingga umat mengetahui makna Tabernakel Kosong seperti yang dimaksudkan Gereja. Semoga simbolisasi ini membantu penghayatan iman kita semua, terutama tentang kelahiran Sakramen Ekaristi.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 16 Tanggal 17 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*