Artikel Terbaru

Fernandes Tekape Jekson: Bayangan di Dunia Malam

Jack memeluk dan ingin mencium kening anaknya, Lexa sebelum berangkat kerja.
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Fernandes Tekape Jekson: Bayangan di Dunia Malam
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comNarkoba, minuman keras, sex bisa dia dapat dengan mudah karena pekerjaannya di tempat hiburan malam. Jack menolaknya demi kesehatan dan keutuhan keluarga.

Pukul 22.00, Fernandes Tekape Jekson bersiap meninggalkan rumahnya. Berpakaian kemeja lengan panjang, jeans biru, dan sepatu jenis loafers, penampilannya persis seperti orang yang ingin ke pesta. Sebagai petugas keamanan di tempat hiburan malam, Jack harus menyesuaikan busananya.

Sebelum pergi, dia mencium kening putri semata wayangnya, Maria Alexsandra de Jekson yang terlelap sekitar sejam sebelumnya. Jack lalu pamit kepada istrinya, Maria Dolvina yang masih terjaga. “Setiap mau pergi dia selalu pamit kepada kami. Jika Lexa (panggilan anaknya–Red) belum tidur, pasti akan mencium tangan bapaknya,” kata Vina.

Jack sebetulnya masuk pukul dua dini hari, lalu pulang pukul empat atau lima pagi setiap hari. Malam itu, Sabtu, dua pekan lalu, memang agak berbeda. Jack berangkat lebih awal ke tempat kerja. Dia ingin mengajak HIDUP. “Tolong sampai di sana (tempat kerjanya–Red) jangan foto,” pesan Jack.

Butuh Teman
Aroma parfume dan asap rokok langsung menyeruduk indera penciuman, ketika masuk ke club and karaoke, tempat Jack bekerja. Musik dangdut menggelegar, memekakkan telinga, dan menghentakkan dada. Pendar lampu disko meliuk-liuk, menyisir ruangan yang memang sengaja dibuat remang-remang.

Bagi mereka yang sering mampir ke tempat ini, rupanya begitu menikmati. Roman para pengunjung, yang sebagian besar adalah kaum pria, terlihat semringah. Mereka bernyanyi, berjoget, atau bercengkerama dengan perempuan-perempuan yang berpenampilan sexy. Ada di antara pengunjung tampak mesra dengan perempuan yang menjadi teman semalam itu.

“Mereka adalah LC (Ladies Club),” kata Jack sambil menunjuk para perempuan yang duduk di depan kami. Para LC mengenakan mini dress. Sempat terbesit dalam benak, apakah mereka tidak risih dengan pandangan banyak orang? Mungkin ada, tetapi di tempat hiburan malam seperti itu, apalagi tuntutan perut, pasti telah mengikis rasa tersebut.

Ada juga yang mengenakan seragam hitam. Penampilan mereka tak seberani LC. Perempuan-perempuan itu adalah waitress. Merekalah yang mengantar minuman dan menawarkan LC kepada pengunjung. “Butuh teman nggak?” tawar seorang waitress dengan nada merayu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*