Artikel Terbaru

Ignatius Untoro: Suguhkan Sastra Kala Purnama

Ignatius Untoro: Suguhkan Sastra Kala Purnama
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSudah empat tahun ini, setiap bulan, ia mengumpulkan para penyair dari seluruh Indonesia. Di bawah sinar purnama, ia menampilkan penyair dan karya sastranya.

Dalam tradisi Jawa, bulan purnama atau tatkala bulan bersinar penuh, adalah saat yang dinanti-nantikan anak-anak. Dalam temaram sinar terang bulan, anak-anak biasa bermain di tanah-tanah lapang. Malam itu terasa istimewa, lantaran anak-anak diperbolehkan main hingga larut malam.

Ignatius Untoro yang akrab disapa Ons menjadikan momen bulan purnama sebagai saatnya “bermain-main” dengan sastra. Sebulan sekali, kala purnama datang, ia meriung bersama para penyair atau pegiat sastra di tanah air. Ia mengundang para penyair berkumpul, membaca karya, berbicara perkembangan sastra, atau sekadar saling bertukar pengalaman. Ketika terang bulan purnama menerabas masuk ke Tembi Rumah Budaya di Yogyakarta, kala itu pula, Ons “bermain-main” sastra bersama para koleganya.

Sastra purnama
Ons memberi nama kumpul-kumpul penyair ini Sastra Bulan Purnama (SBP). Tema yang diangkat dalam setiap kali perjumpaan memang berasal dunia sastra. Kumpul-kumpul ini selalu diadakan tepat di bawah temaram bulan purnama. Tahun ini, SBP telah memasuki tahun keempat. Tak sedikit penyair dari berbagai daerah yang pernah tampil membacakan karya sastranya di rumah budaya yang terletak di Jalan Parangtritis Kilometer 8,4 Bantul, DI Yogyakarta ini.

Ons memulai SBP pada 12 Oktober 2011. Kala itu, anggota Persada Studi Klub Yogyakarta asuhan penyair Umbu Landu Paranggi kerap tampil dalam SBP. Para penyair yang pernah aktif di Persada Studi Klub Yogyakarta pada 1967-1974 dan sampai sekarang masih aktif menulis puisi, kata Ons, mayoritas sudah pernah tampil di acara SBP. Namun diakui, sebagian yang lain sudah tidak terlacak keberadaannya. “Kemungkinan mereka sudah tidak lagi menulis puisi dan beralih profesi, seperti menjadi wartawan atau dosen,” ujar Ons.

Gelaran SBP tak kenal usia dan aliran sastra. Semua generasi dan genre sastra bisa tampil dalam SBP. Ons menjelaskan, tujuan SBP adalah untuk mewadahi atau memberi ruang bagi para penyair dalam mengekspresikan karya-karyanya. “Jadi yang dibacakan harus karya puisi sendiri,” kata ayah dua anak ini kala ditemui di sela acara peluncuran Antologi SBP edisi 54 di Tembi Rumah Budaya, Bantul, akhir bulan lalu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*