Artikel Terbaru

Beata Miriam T Demjanovich SC: Perjuangan Panggilan Anak Imigran

Beata Miriam Teresa Demjanovich SC
[visionsofjesuschrist.com]
Beata Miriam T Demjanovich SC: Perjuangan Panggilan Anak Imigran
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPerjuangannya menjadi suster sungguh luar biasa. Berbagai tantangan mewarnai panggilannya, mulai dari penolakan keluarga sampai kematian orangtua.

Miriam Teresa Demjanovich lahir di Bayone, New Jersey, Amerika Serikat (AS) pada 26 Maret 1901, dari keturunan keluarga migran asal Slovakia Timur. Kampung halamannya termasuk yurisdiksi Kekaisaran Austro-Hungaria. Namun akibat kemenangan sekutu dalam Perang Dunia I (1914-1918) mengakibatkan ratifikasi perlemen dengan dua monarki, Austria-Hungaria pada 1867. Ratifikasiini menghasilkan otonomisasi masing-masing daerah di bawah kekuasaan monarkinya. Slovakia dan beberapa negara Eropa Timur lainnya masuk kekuasaan Republik Hungaria.

Sebagai keturunan imigran, masa kecil Miriam dilakoni dengan penuh perjuangan dalam keadaan nir-hak sebagai manusia bebas. Miriam hidup dalam pengasingan yang ketat dan mendapat perlakuan diskriminasi dari masyarakat setempat. Kelaparan, hidup dalam kamp-kamp pengungsian yang serba terbatas dan memprihatinkan mewarnai hidupnya.

Kendati demikian, keluarga ini menjaga tradisi Kristiani dengan tekun. Tak heran jika lewat perjuangan keras dan novena kepada Bunda Maria, Miriam diterima sebagai Suster Karitas. Ia mendapat tugas sebagai pengajar dan pendidik. Banyak anak didik mengenalnya sebagai mentor yang rendah hati dan bersahaja. Sayang, penyakit miokarditis dan apendiksitis akut (radang usus buntu) memaksanya berhenti berkarya. Ia wafat pada 8 Mei 1927.

Kegetiran Hidup
Sejak kecil, bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Alexander Demjanovich dan Johanna Suchy ini dididik dalam disiplin kekristenan bertradisi Bizantium-Gereja Ruthenia. Kendati beritus Timur, Gereja Ruthenia telah bersekutu dengan Gereja Roma pada 1946. Liturgi mereka berbahasa Yunani, Hungaria, dan Inggris.

Dalam keluarga Demjanovich, doa dan matiraga menjadi prioritas. Kala anak-anak asyik bermain, Miriam lebih memilih berdevosi kepada Bunda Maria. Ia bisa bertahan berjam-jam lamanya dalam doa. Kepolosan imannya menggetarkan hati Alexander dan Johanna. Mereka yakin, Miriam kelak menjadi orang besar.

Hidup di kamp-kamp pengungsi tak membuat Miriam patah arang. Ia malah lebih bersemangat memperjuangkan masa depannya. Ia bercita-cita bisa menyejahterakan keluarganya. Baginya, hanya satu jalan mengubah hidup keluarga, yaitu lewat pendidikan. Karena itu, Miriam masuk Sekolah Bayonne, New Jersey, Januari 1917.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*