Artikel Terbaru

Luka Kemanusiaan

Luka Kemanusiaan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Di negeri ini masih ada sekian deretan kisah kemanusiaan yang terluka. Luka itu menganga akibat martabat manusia yang direndahkan dan hak-hak dasar sebagai manusia diingkari demi uang, kuasa, serta kepentingan yang lain. Maka banyak mereka yang berkuasa dan berlimpah harta namun menyandang luka-luka kemanusiaan.

Konflik atas nama perbedaan agama, kelompok, suku, dan kepentingan masih terus terjadi. Konflik yang kerap berujung pada kekerasan itu pastilah memakan korban. Ratusan, bahkan ribuan orang tua, anak-anak, dan perempuan menjadi korban paling menderita. Nilai-nilai kemanusiaan seperti ditempatkan di titik yang paling rendah, paling nadir.

Tahun ini, Gereja Universal merayakan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Logo yang dipakai Tahun Kerahiman Allah adalah Yesus yang terluka menggendong seseorang di bahu. Luka-luka Yesus terlihat menganga di kaki dan tangan. Itulah luka-luka kemanusiaan yang disandang Yesus. Meski menyandang luka kemanusiaan, Yesus dengan penuh belarasa dan belas kasih rela menggendong mereka yang berkesusahan, miskin, dan tersingkir.

Yesus datang dan menggendong mereka yang berada di tengah luka-luka kemanusiaan yang terus menganga dan bernanah itu. Dia datang sebagai penyembuh luka. Panggilan Yesus yang datang sebagai penyembuh luka-luka kemanusiaan itu juga menjadi panggilan Gereja. Gereja hadir sebagai pengejawantahan wajah Allah yang berbelas kasih, dan yang senantiasa menyapa dengan penuh belarasa.

Rentetan persoalan kemanusiaan yang kerap menghiasi media massa sebenarnya mengundang kita, sebagai Gereja, agar dengan jujur mengatakan bahwa masih banyak luka kemanusiaan di sekitar kita. Ada luka lama yang terpendam dan tersembunyi, tapi ada pula luka baru yang masih berdarah-darah. Mata iman kita diuji saat melihat luka-luka kemanusiaan itu. Apakah kita berani menanggung dan menjadi penyembuh luka-luka kemanusiaan itu?

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 15 Tanggal 10 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*