Artikel Terbaru

Membawa Cinta Bapa pada Kaum Papa

Kardinal Jorge Mario Bergoglio merayakan Ekaristi di tengah pemukiman kumuh.
[msmary.edu]
Membawa Cinta Bapa pada Kaum Papa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDi hadapan ketidakadilan, keberpihakan adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil setiap orang beriman. Beberapa imam ini telah menunjukkannya.

Suatu hari, seorang imam muda memberikan jubah dan kartu tanda pengenalnya kepada seorang pemuda. Pemuda itu terancam akan diciduk rezim junta militer yang kala itu berkuasa. Sang imam berpesan pada si pemuda agar sesegera mungkin pergi mencari suaka ke negeri lain. Ia yakin, skenario penyamaran itu akan berhasil karena wajah si pemuda sangat mirip dengannya.

Sang imam berpikir, itulah satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan si pemuda. Sebagai imam, ia tak pernah datang ke tempat-tempat penyekapan orang-orang yang dianggap membangkang terhadap pemerintah diktator, kecuali hanya sekali ketika ingin memastikan nasib si pemuda. Ia memilih melakukan kegilaan dengan risiko berhadapan dengan rezim penguasa, mempertaruhkan nyawa bagi yang tertindas.

Imam itu adalah Paus Fransiskus. Kisah pengalaman itu terungkap tahun 2011, kala ia sudah menjadi Uskup Agung Buenos Aires, Argentina, Kardinal Jorge Mario Bergoglio SJ. Kala itu, ia menjawab 30 pertanyaan penyidikan Kejaksaan Argentina terkait tuduhan ke terlibatannya dalam rezim junta militer Jorge Rafael Videla Redondo (1976-1981). Kala Jenderal Videla berkuasa, Bergoglio menjadi Provinsial Jesuit Argentina (1973- 1979). Semua tuduhan yang di lemparkan padanya patah dan tidak terbukti. Sebaliknya, muncul kisah-kisah mengharukan terkait usahanya membela dua rekan Jesuit yang sempat dicekal dan perjuangannya di pihak rakyat tertindas.

Ketika Pater Bergoglio menghadapi rezim Videla, banyak imam di Amerika Latin berjibaku membela rakyat melawan rezim-otoriter. Misal, Uskup Agung San Salvador, Mgr Oscar Amulfo Romero y Galdamez (1917-1980). Secara terbuka Mgr Romero melancarkan kritik pedas kepada pemerintah militer yang melakukan penindasan. Melalui radio dan buletin keuskupan, khotbah-khotbahnya disiarkan. Ia memperjuangkan hak-hak kaum buruh dan penindasan terstruktur di El Salvador hingga wafat ditembak pada saat mempersembahkan Misa Requiem di Kapel Rumah Sakit La Divina Providencia, San Salvador, 24 Maret 1980. Sepertinya, ungkapan “Mengenal Tuhan berarti melakukan keadilan” dari Pater Gustavo Guiterrez Merino OP bergema di Bumi Amerika Latin.

Selama periode perjuangan di Amerika Latin, hal serupa juga bergema di Afrika Selatan, berupa gelombangan tiapartheid. Sejak era 1970-an, Mgr Desmond Tutu menjadi tokoh perjuangan melawan ketidakadilan berbasis warna kulit. Uskup Agung Emeritus Cape Town, Afrika Selatan dari Gereja Anglikan itu tak gentar menghadapi pemerintahan yang rasis.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*