Artikel Terbaru

Rebutlah Hati Orang Papua!

Romo John Djonga bersama mama-mama Papua.
[NN/Dok.HIDUP]
Rebutlah Hati Orang Papua!
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMasih ada kedamaian di Papua. Harapan itu terwujud jika kita sanggup merebut hati masyarakat di Bumi Cenderawasih.

Suatu hari pada 16 tahun silam, lahir sebuah puisi untuk seorang Srikandi Papua, Yosepha Alomang. Berkat kegigihannya melawan pencemaran lingkungan oleh perusahaan tambang tersohor di Papua, Srikandi kelahiran Tsinga ini menerima penghargaan Yap Thiam Hien. Dia minta penghargaan itu diberikan di Jayapura, bukan di Jakarta.

Puisi untuk Yosepha merupakan karya sahabatnya, Romo Yohanes Djonga. Yosepha dan Romo John, sapaannya, sempat bahu-membahu melawan berbagai macam pelanggaran yang dilakukan oleh aparat, lewat militer, pemerintah maupun PT Freeport Indonesia. Dalam puisi berjudul “Doa Anak Telanjang”, Romo John merasakan kesedihan mendalam di ladang karyanya. Puisi itu mengukir harapan mulia kepada Dia yang telah mengutusnya ke Bumi Cenderawasih.

Tuhan Allah Bapa dan Ibu kami
Kau sudah tahu toooh
Saya duduk, berdiri, berjalan, di atas lumuran darah dan serakan tulang belulang tete–nenek leluhur bangsa ini.
Bapa telah meninggal, mama juga telah pergi untuk selama-lamanya setelah diperkosa oleh pasukan penyisir.
Kakakku ditembak ketika anak–anak negeri mencari kebenaran dan keadilan.

Tuhan, Sumber dan Tujuan Hidup kami
Kami anak telanjang duduk seorang diri.
Kayu perahu sudah ditebang.
Dusun sagu telah dibabat jadi lokasi transmigrasi dan kelapa sawit.
Burung kuning sudah mulai punah.
Laut sungai kini telah tercemar.

Tuhan Embunkan kami
Semangat juang leluhur Tanah Papua.
Biarlah darah mengalir menyinari Ibu kami Papua,
biarlah tulang-belulang yang berserakan di belantara tanah ini
menjadi anak cucu masa depan.
Biarlah para pejuang satupersatu kembali pada-Mu agar tumbuh seribu.

Semua Hilang
Papua punya segala-galanya, kata Romo John saat ditemui HIDUP di Wisma UNIO, Kramat, Jakarta Pusat, pertengahan Maret lalu. Tapi semua kekayaan Papua sekonyong-konyong raib dari tangan mereka. Seolah yang tersisa hanyalah derita. Ketika masyarakat Papua berteriak tentang hak yang direnggut, imbuh pria yang sudah 29 tahun di sana itu, mereka dicap separatis.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*