Artikel Terbaru

Dari Altar Sampai ke Pasar

Pastor Rantinus Manalu melakukan aksi demo di depan Kantor DPRD Kabupaten Tapteng.
[NN/Dok.Pribadi]
Dari Altar Sampai ke Pasar
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comTugas pengikut Kristus tak sekadar urusan seputar altar, tapi ambil bagian dalam derita rakyat. Demi hak rakyat kecil, para imam jadi tersangka.

Polda Sumatera Utara (Poldasu) menetapkan Pastor Rantinus Manalu, aktivis kemanusiaan sebagai tersangka. Pastor Rantinus dijerat dengan dua perkara pidana karena membela rakyat kecil, Pada tahun 2009, dia pertama kali dijadikan tersangka tindak pidana pendudukan lahan. Kedua, pada 6 Februari 2013 polisi menetapkan dia sebagai tersangka lagi dalam kasus pencemaran nama baik.

Pada 9 Desember 2009, Pastor Rantinus dipanggil polisi sebagai tersangka kasus tindak pidana “mengerjakan, menggunakan dan menduduki kawasan hutan secara tidak sah, atau merambah, membakar kawasan hutan Register 47 desa Purba Tua dan desa Hutaginjang, Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng)”.

Sedangkan kasus pencemaran nama baik dituduhkan kepada Pastor Rantinus berdasarkan pengadukan Bupati Tapteng, Raja Bonaran Situmeang, September 2012. Pasalnya ia menulis advertorial di koran Harian Rakyat Tapanuli, 8 September 2012 yang membeberkan sembilan butir kecurangan Bupati yang tidak memenuhi janji kampanye pemilihan kepala daerah pada 2011. Padahal, pada waktu kampanye, Pastor Rantinus adalah tim sukses Bupati yang berjanji akan menghentikan pencaplokan tanah rakyat. Selain Pastor Rantinus polisi juga menetapkan Ustad Sodiqin Lubis dan koordinator Gerakan Rakyat Menggugat (Geram) Denis Simalango.

Pastor Rantinus menuturkan, kasus ini berawal dari upaya pengambilan paksa tanah rakyat Tapanuli Tengah oleh pihak tertentu. Sedikitnya 112 Kepala Keluarga di Desa Purbatua mengeluhkan situasi ini. Mereka mendesak pihak berwenang agar tanah mereka dijadikan kebun karet, sebab itu adalah tanah adat.

Namun lahan warga itu kemudian diklaim sebagai kawasan Register 47 atau hutan lindung. Warga menyatakan pernah menemukan sebuah patok bertuliskan BHL 308” di Tombak Lalo, sekitar 10 kilometer dari Molhum. Juga patok bertulis .BHL 312” di Aek Gambir yang berjarak sekitar delapan kilometer dari lahan warga. Patok-patok itu diketahui sebagai batas hutan lindung. Artinya, lahan mereka bebas dari hutan lindung.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*