Artikel Terbaru

Kisah Sengsara

Kisah Sengsara
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMengapa pada perayaan Minggu Palma dibacakan Kisah Sengsara yang pada Jumat Suci akan dikenangkan lagi, bahkan dinyanyikan secara lebih meriah? Seandainya Kisah Sengsara ditiadakan dalam perayaan Minggu Palma bukankah kemunculan Kisah Sengsara secara meriah pada Jumat Suci akan lebih mengesankan?

Theresia Maria Agustyarini, Malang

Pertama, perayaan Minggu Palma mengawali perayaan Misteri Paskah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Liturgi Minggu Palma seolah menyajikan rangkuman dari yang akan dirayakan pada Tri Hari Suci. Karena perayaan masing-masing hari pada Tri Hari Suci sudah sangat sarat akan makna, maka bisa jadi kita terjebak kepada makna masing-masing hari suci itu. Kamis Putih mengundang kita merenungkan Pembasuhan Kaki dan Sakramen Ekaristi. Jumat Suci menyajikan sengsara dan wafat Yesus yang mengorbankan diri di salib untuk melayani keselamatan kita. Malam Paskah mewartakan kemenangan Yesus Kristus atas kematian melalui Upacara Cahaya, Pujian Paskah, dan pembaharuan Janji Baptis. Supaya kita tidak kehilangan kaitan erat antara ketiga hari suci itu, maka liturgi Minggu Palma menonjolkan kaitan erat atau alur dasar ketiga hari suci itu. Alur dasar itu nampak dalam sikap sang Hamba Allah dalam bacaan pertama (Yes 50:4-7) yang mendapatkan kontras dalam pembacaan Kisah Sengsara. Itulah sebab Kisah Sengsara tidak bisa dihapuskan dari liturgi Minggu Palma.

Kedua, Hamba Allah adalah seorang yang dipilih dan diutus Allah memberikan pengajaran yang mengoreksi kesalahtafsiran yang memberatkan orang-orang kecil. Dia bekerja memperjuangkan kesejahteraan orang banyak, membuka mata orang buta, membebaskan orang tawanan dari penjara dan kegelapan, menegakkan keadilan dan hukum di atas dunia. Ia membela orang-orang kecil yang seringkali menjadi korban mereka yang menduduki jabatan atau anggota kelompok atau golongan. Namun karya-Nya mengundang perlawanan, kebencian, dan siksaan. Hamba Allah disambut dan dielu-elukan rakyat banyak, tetapi dimusuhi golongan atas, para pemimpin orang Yahudi, bahkan para musuh merancang tipu muslihat untuk menyingkirkan (Kisah Sengsara). Dalam situasi ini, sang Hamba Allah harus meneguhkan iman kepada Allah, sang “gunung batu” yang membela dan tidak akan membiarkan dia mendapat malu (Yes 50:4-7). Dengan tetap berpegang kepada Allah, sang Hamba Allah harus mengosongkan diri sehabis-habisnya (bacaan kedua, Flp 2:6-8) dan tidak hilang kepercayaan kepada Allah (Yes 50:9-10). Hamba Allah yakin bahwa Allah akan meninggikan dan menganugerahi kuasa di atas segala kuasa (Flp 2:9-11).

Ketiga, dalam kaitan dengan pemuliaan diri hamba Allah, penyambutan Yesus secara sangat antusias oleh umat Yerusalem sebagai Raja Pemenang bisa dipandang sebagai lambang kemenangan Kebangkitan-Nya pada Hari Raya Paskah. Seperti kita ketahui, daun palem adalah simbol kemenangan (Why 7:9; Im 23:40). Menghamparkan daun palem dan ranting serta pakaian di jalan, melambangkan harapan masyarakat bahwa Yesus akan menjadi Penyelamat bangsa yang membawa kemenangan dan pembebasan. Yesus disambut sebagai Mesias yang datang sebagai Raja dengan menunggang keledai dan membawa damai serta kemenangan (Za 9:9). Maka, orang banyak melontarkan seruan mesianis kepada Yesus: “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat 21:9; Mzm 118:26). Itulah kemenangan yang diperoleh melalui sengsara dan wafat-Nya, melalui jalan damai, dan bukan melalui pedang atau kekerasan.

Keempat, dengan demikian jelaslah bahwa liturgi Minggu Palma hendak menekankan kaitan dua aspek dari Misteri Paskah, yaitu “perayaan kemenangan Kristus Raja dengan pewartaan penderitaan-Nya” atau antara perarakan dengan daun palem sebagai lambang penyambutan Raja Pemenang secara damai dengan pembacaan Kisah Sengsara (bdk. Perayaan Paskah dan Persiapannya, No. 28).

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 15 Tanggal 10 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*