Artikel Terbaru

Agustinus Prasetyantoko: Mengusung Perubahan di Atma Jaya

Agustinus Prasetyantoko: Mengusung Perubahan di Atma Jaya
Mohon Beri Bintang

Kedua, mendengarkan suara hati. Hal ini terkait dengan kematangan emosional dan sikap yang akan diambil ketika menghadapi situasi tertentu. “Jam lima pagi saya sudah berangkat dari rumah. Di jalan saya sempatkan waktu berdiam diri dan mendengarkan suara hati saya. Ini penting agar di tempat kerja, saya tidak mudah marah, termasuk saat mendapati karyawan yang bekerja tak maksimal,” kata umat Paroki St Paulus Depok, Keuskupan Bogor ini.

Program kerja
Setelah empat bulan melakoni tugas sebagai rektor, Pras sadar bahwa ia memang dibutuhkan di kampus Atma Jaya Jakarta. Karena kampus ini butuh orang-orang muda yang progresif dan terbuka terhadap tuntutan perubahan. Target perubahan pertama yang ia sasar adalah memperbaiki sistem organi sasi. Ini terkait tata kelola, manajemen, sumber daya manusia, dan budaya kerja. Sektor pertama yang ia benahi adalah marketing dan public relation. Pras mengatakan, selama ini komunikasi keluar kurang maksimal sehingga orang kurang mengenal Atma Jaya Jakarta.

Selain itu, sektor keuangan, prasarana, dan teknologi informasi juga menjadi perhatian Pras. Ia menjelaskan, tahun-tahun ini Atma Jaya Jakarta berinvestasi dalam teknologi informasi di dua bidang, yakni sistem akademik dan sistem manajerial. “Tugas saya dan pemimpin lain adalah memastikan hal ini berjalan dengan baik, sehingga Atma Jaya diharapkan bisa mengalami lompatan yang signifikan.” Salah satu yang dimaksud Pras dengan target ini adalah pembangunan kampus baru di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Jadi, Atma Jaya sedang merancang tiga kampus. Kampus Atma Jaya di BSD akan menjadi Center for Human Development. Ia akan jadi pusat pendidikan strata satu dan pengembangan manusia. Kampus Semanggi menjadi Center for Nation Development. Kampus ini akan didedikasikan bagi pendidikan magister dan sebagai pusat penelitian isu-isu kebangsaan. Sementara kampus Pluit akan menjadi Center for Health Development atau pusat pengembangan kesehatan dan kepedulian sosial.

Kampus mahal
Pras mendengar pembicaraan bahwa Atma Jaya Jakarta terkesan mahal. Menurut Pras, mahal itu relatif, tergantung dengan kampus mana Atma Jaya dibandingkan. Kalau dibandingkan dengan kampus-kampus swasta lain di sekitar Jakarta, Atma Jaya justru lebih murah. Lebih dari itu, kalau ingin mendapat kualitas pendidikan yang bagus, pasti ada harga yang harus dibayar. “Anak saya masuk SMP Katolik biayanya lebih mahal daripada masuk Atma Jaya,” ujar ayah satu anak ini.

Menurut dia, dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, yang bisa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi hanya sekitar delapan atau sembilan persen. Ini menandakan akses pendidikan masyarakat Indonesia ke perguruan tinggi masih sangat rendah.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*