Artikel Terbaru

Pengakuan Dosa di Sekolah

[strongcopywriting.com]
Pengakuan Dosa di Sekolah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMengingat dalam Masa Pra-Paskah ini banyak sekolah Katolik akan memberikan kesempatan kepada para muridnya untuk mengaku dosa, saya mohon Romo memberikan jawaban atas surat pembaca ”Pengakuan Dosa di Sekolah” yang dimuat di HIDUP, No 07, 13 Februari 2011. Mohon bimbingan.

Lindawani Gemilang, 081554250xxx

Pertama, mengingat terbatasnya tempat, maka saya membatasi menjawab permasalahan teologis sakramental yang muncul. Sedangkan masalah etika, kiranya bisa dijawab sendiri bagaimana seyogianya seorang gembala bersikap terhadap dan bekerjasama dengan umatnya. Permasalahan teologis yang utama ialah bolehkah pengakuan dosa dilakukan secara bersama-sama, tiga siswa sekaligus, dan tanpa mengakukan dosa secara lisan tetapi hanya dikatakan dalam hati? Bagaimana aturan dalam memberikan Sakramen Tobat di Gereja Katolik?

Kedua, Gereja mengenal tiga macam perayaan Sakramen Rekonsiliasi (Bdk Ordo Paenitentiae 7b; Reconciliatio et Paenitentia 32; KGK 1481-1484).
a) Persiapan tobat bersama, disusul dengan pengakuan dosa dan pemberian absolusi secara individual (KGK 1482). Inilah yang dilakukan pada awal dari pengakuan dosa sekolah yang dirujuk di atas.

b) Persiapan tobat bersama, disusul dengan pengakuan dosa dan pemberian absolusi secara bersama pula. Ini disebut pengakuan dosa secara umum dan pemberian pengampunan (absolusi) secara umum. Dalam perayaan bersama ini, pengakuan dosa secara lisan di hadapan imam diganti dengan pengakuan dosa secara batiniah oleh masing-masing penobat. Bentuk semacam ini hanya boleh dilakukan jika keadaan sangat darurat karena bahaya maut (KHK Kan 961 #1,1) atau ”ada kebutuhan mendesak, yakni menilik jumlah peniten tidak dapat tersedia cukup bapa pengakuan untuk mendengarkan pengakuan masing-masing dalam waktu yang layak, sehingga peniten tanpa kesalahannya sendiri akan terpaksa lama tidak dapat menikmati rahmat sakramen serta komuni suci; tetapi kebutuhan itu tidak dianggap cukup jika tidak dapat tersedianya bapa pengakuan hanya karena kedatangan jumlah besar peniten, seperti dapat terjadi pada suatu hari pesta besar atau pada suatu peziarahan” (KHK Kan 961 #1,2). Penentuan keadaan mendesak tidak bisa serta merta diputuskan sendiri oleh imam tanpa minta pertimbangan dari Bapa Uskup setempat (KHK Kan 961 #2). Untuk dapat menikmati absolusi umum secara sah, seorang harus mempunyai disposisi baik dan berniat mengakukan dosa satu per satu sesegera mungkin jika muncul kesempatan di kemudian hari (KHK Kan 963; KGK 1483).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*