Artikel Terbaru

Sekolah Katolik dalam Persaingan

Sekolah Katolik dalam Persaingan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMemasuki 2016, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai diberlakukan di Indonesia. Kesepakatan bersama ini untuk saling terbuka dalam hal perdagangan, investasi, layanan jasa, produksi, dan penghapusan tarif bagi perdagangan antarnegara ASEAN. Itu berarti, kita bisa bekerja dan membuka usaha di semua wilayah negara ASEAN, pun sebaliknya.

Pemberlakukan MEA ini berarti persaingan antarnegara ASEAN kian terbuka. MEA juga membuka sebuah peluang untuk membuka usaha atau berinvestasi dalam berbagai bidang di seluruh wilayah ASEAN. Sekarang, kita mesti berupaya mempersiapkan generasi muda agar siap bersaing dengan generasi muda negara-negara anggota ASEAN yang lain. Generasi muda kita mesti mampu bersaing dalam kancah regional maupun internasional.

Dalam konteks ini, tugas sekolah semakin berat, karena harus mempersiapkan generasi bangsa agar mampu berkompetisi bukan hanya dengan sesama anak bangsa, tetapi dengan semua generasi muda anggota negara-negara ASEAN. Generasi muda ini perlu dipersiapkan menjadi tenaga-tenaga profesional, bermutu, kreatif penuh inovasi, mampu memecahkan masalah secara kreatif, dan berkomunikasi secara efektif. Hanya dengan begitu, kelak mereka siap masuk dalam kancah persaingan antarnegara.

Sampai kini diketahui bahwa penalaran logis anak didik di Indonesia masih sangat lemah. Hasil penilaian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan hasil penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa siswa di Indonesia hanya bisa mencapai level tiga saja, sementara negara lain banyak yang mencapai level empat, lima, bahkan enam.

Hasil TIMSS pelajaran Matematika di jenjang kelas delapan sekolah menengah pertama menunjukkan bahwa 95 persen siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara 50 persen siswa di Taiwan mampu mencapai level tinggi. Penyebab utama adalah metode mengajar guru yang tidak mempromosikan penalaran, tapi masih fokus dengan hafalan. Kebanyakan guru di Indonesia belum kompeten menggunakan metode mengajar dengan penalaran atau belajar aktif. Melihat realita ini, kita mesti melakukan pembenahan mutu guru di sekolah, karena guru adalah aktor penting dalam proses pembelajaran.

Profesor Fasli Jalal ketika bicara dalam forum pertemuan Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK), akhir Februari lalu, menegaskan bahwa “kemajuan belajar siswa sangat ditentukan mutu pengajaran guru”. Siswa yang diajar oleh guru yang lemah hanya mampu menguasai sama dengan atau kurang dari 50 persen isi kurikulum. Sedangkan siswa yang diajar guru yang memiliki kompetensi akan memperoleh kemajuan ratarata standar kurikulum. Maka, pemberdayaan guru merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, termasuk di sekolah-sekolah Katolik.

Mulai saat ini, guru-guru harus mempromosikan penalaran kepada para siswa ketika mengajar di depan kelas. Para siswa dilatih menalar dan menggunakan pemikiran kritis. Guru melatih siswa menganalisa, bukan sekadar menghafal data-data atau deretan rumus. Hal ini hanya mungkin terjadi, jika guruguru sungguh menguasai dengan baik materi yang diajarkan dan mengetahui metode yang tepat untuk mengajarkan.

Yayasan atau lembaga yang bergerak di bidang pendidikan perlu menyisihkan dana untuk investasi pelatihan profesional bagi guru-guru di sekolah. Hanya dengan guru-guru yang bermutu, profesional dan terampil, sebuah sekolah bisa memberikan layanan mempersiapkan generasi muda masuk dalam era persaingan MEA.

Jika sekolah-sekolah Katolik masih mempertahankan guru-guru yang berada di bawah standar, maka ia akan ditinggalkan oleh masyarakat dan tergilas persaingan. Jelas, hanya sekolah-sekolah yang mampu beradaptasilah yang mampu bertahan menghadapi tantangan perubahan zaman. Mereka yang tidak dapat beradaptasi pasti segera ditinggalkan.

Fidelis Waruwu

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 16 Tanggal 17 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*