Artikel Terbaru

Karismatik Harus Inklusif

Mgr Hilarius Moa Nurak SVD
[Dok. Majalah HIDUP]
Karismatik Harus Inklusif
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Karismatik harus menyatu dengan umat, komunitas basis gerejani. Karismatik dan gerakan serupa lainnya harus menjadi vitamin bagi tubuh yakni Gereja.

Bagaimana Hirarki Gereja Katolik di Indonesia melihat perkembangan gerakan karismatik, berikut ini penuturan Penasihat Episkopal Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia, Mgr Hilarius Moa Nurak SVD.

Bapak Uskup bagaimana karismatik berkembang di Indonesia?

Pada tahun 1987 saya ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Pangkalpinang. Di Pangkalpinang sudah ada Marriage Encounter (ME), Legio Maria (LM) dan Karismatik Katolik. Kala itu, Karismatik Katolik masih baru buat saya. Saya berusaha mengenal dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan karismatik, misalnya Seminar Hidup Baru (SHB) yang biasa dibuat untuk mereka yang baru terlibat di Persekutuan Doa Karismatik (PDK). Sampai di situ, saya yakin Karismatik Katolik ini baik untuk Gereja.

Melalui SHB, umat diajak membaca Alkitab dan mengaku dosa. Ini bagus dan sangat menggembirakan. Buah yang baik ini tentu berasal dari pohon yang baik. Saya terus mempelajari Gerakan Karismatik lebih jauh.

Dengan pengetahuan yang diperoleh dari buku, seminar dan sebagainya, saya mengeluarkan pedoman karismatik untuk umat dan pastor di Pangkalpinang supaya mereka mengerti apa Gerakan Karismatik itu yang sebetulnya. Oleh penjelasan yang baik dan resmi, para imam dan awam bisa mengerti dan menerima gerakan ini.

Apakah gerakan karismatik ini turut mengambil bagian dalam karya pewartaan kabar sukacita Allah?

Tentu saja, melalui Karismatik, orang digerakkan untuk berkomunitas, melayani, membaca firman dan mewartakannya. Tetapi tanpa bermaksud mengesampingkan Karismatik, saya mendorong cara hidup menggereja dan berpastoral yaitu Komunitas Basis Gerejani (KBG).

Pastoral KGB memungkinkan semua umat untuk terlibat. Lain halnya dengan Gerakan Karismatik atau LM yang punya kepengurusan sendiri. Mereka punya cara hidup dan kerja sendiri. Mereka tidak setiap waktu turun ke keuskupan dan paroki-paroki. Waktu untuk mereka bergiat di paroki terbatas. Kalau mereka dibutuhkan, harus diundang resmi. Lalu kemudian muncul masalah biaya lagi. Dengan KBG, pastor dan semua umat bergerak bersama. Mereka berada bersama setiap waktu. Pembinaan bisa berkelanjutan. Apa yang sudah dilaksanakan kemudian dievaluasi bersama. Dengan KBG, buah-buah baik dari gerakan karismatik, ME dan LM atau gerakan lainnya dapat diperoleh dan dinikmati semua umat, tidak hanya oleh kelompok tertentu.

Apakah hubungan antara KGB dan Karismatik?

KBG dan Karismatik serta gerakan dan asosiasi gerejani lainnya sangat dibutuhkan Gereja. Semua unsur tersebut harus dikoordinasikan dengan baik dan harmonis untuk membangun Gereja.

Tentang hubungan antara Karismatik dan KBG ini sebetulnya sudah dituliskan dalam pedoman yang ditulis para Uskup Indonesia dalam Surat Gembala. Rangkaian kelompok-kelompok basis memerlukan pranata kerja sama. Perlu ada relasi yang tidak tumpang tindih. Analoginya seperti tubuh yang membutuhkan vitamin untuk pertumbuhan. Kalau vitamin itu di luar tubuh, bagaimanapun khasiatnya vitamin, tetap tidak ada gunanya.

Begitu pula KBG dengan Karismatik atau gerakan lainnya. Keuskupan, paroki, stasi dan KBG sebagai unit paling kecil dari tubuh Gereja, adalah tubuh yang membutuhkan vitamin. Karismatik, ME, LM dan lain-lainnya merupakan vitamin yang dibutuhkan tubuh khususnya paroki serta KBG. Mereka berbaur dengan umat di KBG-KBG. Di sana saudara-saudari Karismatik dapat memberikan kesegaran kepada tubuh yaitu umat di KBG-KBG. Keahlian dan cara hidup mereka menjadi contoh yang menghidupkan umat.

Apa harapan Bapak Uskup bagi Karismatik Indonesia?

Karismatik, seperti komunitas lainnya harus tetap dihidupkan di setiap keuskupan, paroki sampai ke unit yang paling kecil. Tetapi mereka tidak boleh menjadi bentuk elit sendiri di luar paroki atau KBG. Mereka pertama-tama adalah anggota KBG atau paroki. Sesudah itu baru kemudian menjadi orang-orang karismatik. Jangan dibalik! Hal ini seperti yang dikatakan Sri Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium No. 29, yang menganjurkan supaya gerakan-gerakan yang ada dalam Gereja sungguh keluar dari dirinya dan bersatu dengan paroki sampai ke unitnya yang paling kecil yaitu KBG-KBG.

Maria Pertiwi/Edward Wirawan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 14 Tanggal 3 April 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*