Artikel Terbaru

Roh Karismatik dalam Gereja Indonesia

Benyamin Ratu dalam sebuah pelayanan Karismatik.
[HIDUP/Maria Pertiwi]
Roh Karismatik dalam Gereja Indonesia
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Komunitas Karismatik Katolik Indonesia akan memasuki usia ke-40 tahun. Berkat bantuan Roh Kudus, komunitas ini terus berkembang ke seluruh Indonesia.

Pada bulan Mei mendatang kelompok Persekutuan Karismatik Katolik Indonesia (PKKI) akan merayakan ulang tahun yang ke-40. Berbicara tentang sejarah hadirnya PKKI di Indonesia, Ketua Badan Pelayan-an Nasional (BPN) PKKI yang pertama Romo Lambertus Sugiri van den Heuvel SJ berkisah, sebelum tahun 1976 di Indonesia sudah banyak terdapat aliran evangelikel atau pentakosta seperti kelompokkelompok Evangelisasi atau Gereja Bete dan Sidang Jemaat Allah.

Di Lembang Bandung di Gereja Kristen dekat Susteran Karmel juga ada seorang pendeta Belanda bernama Hoekendijk yang sering mengadakan Persekutuan Doa (PD) ekumenis. Kepala Biara Karmel Sr Johana sering ikut dalam PD tersebut. Keikutsertaan Sr Johana ini menimbulkan pemisahan dua kelompok yang setuju dan tidak dalam biara itu. Hingga suatu waktu pimpinan pusat mereka di Roma turun tangan. Para suster yang ikut PD diminta memilih untuk keluar atau tetap tinggal dengan spiritualitas Karmel. Sr Johana memilih keluar diikuti enam suster lainnya. “Ia kemudian keliling dunia untuk mempelajari Karismatik,” ujar Romo Sugiri.

Sebelum Sr Johana keluar, rupaya ia telah mengundang profesor Kitab Suci Romo Heribertus Schneider SJ dari Manila, Filipina dan Provinsial Jesuit Romo Paul O’Brian SJ dari Bangkok, Thailand untuk memberikan retret pembaruan dalam Roh. Setelah mengetahui Sr Johana keluar dari biara, kedua pembicara itu ingin membatalkan kedatangannya. Rupanya, Mgr Leo Soekoto SJ mengetahui rencana tersebut dan tak disangka mengambil-alih undangan itu. Kedua pem-bicara itu kemudian diundang oleh Mgr Leo. “Dengan penerimaan dari Uskup Agung Jakarta ini, maka Karismatik mulai mendapat pengakuan di Indonesia. Peristiwa ini dianggap sebagai awal perkembangan Karismatik Katolik Indonesia,” ung-kap Romo Sugiri.

Pada Mei 1976, kedua pastor itu pun datang ke Jakarta. Sekitar 150 peserta terdiri dari imam, kaum religius dan awam mengikuti seminar yang mereka bawakan. Seusai seminar, para peserta menindaklanjuti dengan mengadakan PD di Gedung Karya Pastoral Katedral Jakarta. Dalam perjalanan waktu peserta PD itu menyusut menjadi 25 orang.

Doa yang Menyentuh
Pada Januari 1977, Romo Sugiri pindah tugas dari Paroki San Inigo Dirjodipuran, Solo, Keuskupan Agung Semarang ke Paroki St Petrus dan Paulus Mangga Besar, KAJ. Pada 10 Januari 1977, Romo Sugiri diundang makan siang di rumah Ibu Suyud yang bersuamikan seorang Kolonel. Ibu Suyud adalah anggota PD angkatan pertama Katedral Jakarta. Dalam pertemuan itu, Ibu Suyud meminta Romo Sugiri untuk menjadi pastor moderator. “Saya bingung, padahal di Solo saya tidak senang dengan Karismatik. Tetapi, kalau orang Jawa sudah meminta dengan halus, saya merasa tidak boleh menolak,” ungkapnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*