Artikel Terbaru

St Vinsensius a Paulo: Cinta Kasih Kristus Mendorong Kami

Sumber: [4shared.com]
St Vinsensius a Paulo: Cinta Kasih Kristus Mendorong Kami
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Setiap 27 September, Gereja merayakan peringatan St Vinsensius a Paulo, seorang imam yang menghayati kaul kemiskinan dengan sungguh. Pribadi yang mencintai kemiskinan itulah yang ingin dikenang oleh Gereja.

Jika dirunut ke masa lalunya, ketika memutuskan untuk menjadi imam, sebenarnya motivasi Vinsensius tidak murni. Ia mau menjadi imam karena ingin kaya dan dihormati. Imamat dimanfaatkan untuk menaikkan jenjang hidupnya dalam Gereja dan di dalam masyarakat, sehingga ia dapat dihormati banyak orang. Perlahan-lahan cita-cita itu pun tercapai.

Titik balik
Setelah mimpinya terpenuhi, Vinsensius berbalik arah. Keadaan itu menyibak matanya. Ia mulai memperhatikan orang-orang miskin di pedesaan. Perhatiannya merambah ke akar kemiskinan mereka, baik lahir maupun batin. Pertanyaan “Apa artinya saya bagi mereka?” mengusik nuraninya. Lambat laun panggilan imamatnya menemui sasaran.

Pertanyaan itu menuntunnya untuk berjumpa dengan Yesus. Titik balik motivasi panggilan imamatnya menemukan dasar pijak. Dalam diri fakir miskin, Yesus menampakkan diri-Nya secara nyata. Yesus secara sadar memilih untuk hidup miskin. Yesus tidak memiliki kekayaan. Yang Ia miliki hanya Tuhan, Sang Sumber Hidup.

Berkali-kali Vinsensius mewariskan ref­leksi kemiskinan yang sangat bermanfaat bagi para imam Lazaris dan suster-suster Putri Kasih. Kutipan “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” menjadi refrein setiapkali ia berbicara tentang kemiskinan.

Imam kelahiran Pouy, Gascony, Prancis, 24 April 1581 ini berefleksi, “Sebenarnya Yesus dapat memiliki seluruh harta benda di dunia ini. Tetapi, Yesus tidak melakukannya. Yesus dengan bebas memisahkan diri dari kekayaan. Memiliki Tuhan merupakan kekayaan yang tiada duanya.”

Vinsensius mengatakan ini bukan tanpa dasar. Pengalaman masa lalu ketika ia hendak menjadi imam juga turut memperjelas hal ini. “Dahulu aku selalu mendahulukan kepentingan dan kekayaan akan hal-hal duniawi. Dan hal itu membutakan aku akan Tuhan,” akunya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*