Artikel Terbaru

Roti Padre Pio

Roti Padre Pio. [sayong.blogspot.com]
Roti Padre Pio
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaya menerima roti Padre Pio berupa adonan, yang dikirim bersama doa Novena Padre Pio, doa Novena Hati Kudus Yesus, dan resep pembuatan roti Padre. Adonan itu harus saya simpan sepuluh hari, setelah itu boleh dimasak. Kemudian 3/4 roti harus diserahkan kepada tiga teman dekat saya, masing-masing 1/4 bagian dengan paket sama seperti yang saya terima. Benarkah roti itu berasal dari Vatikan atau Padre Pio? Saya cemas karena terdapat ancaman halus dalam resep itu “Anda tidak boleh menolaknya”, dan juga “Kalau tidak diberikan kepada orang yang baik, kamu akan celaka”. Apakah menolak roti ini akan mendatangkan malapetaka? Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana sikap resmi Gereja?
Katarina Suciati, Makassar

Pertama, tidak benar roti Padre Pio berasal dari Vatikan. Jika Vatikan mengeluarkan sesuatu secara resmi, tentu penyalurannya akan dilakukan melalui para uskup, kemudian diberikan kepada para imam di paroki-paroki hingga sampai kepada umat, bukan memberikan kepada umat secara langsung. (bdk Roti Padre Pio telah dibahas panjang lebar dalam HIDUP, No 26, 28 Juni 2009).

Biara para rahib Kapusin di Kota San Giovanni Rotondo, komunitas Padre Pio pernah hidup hingga wafat, juga menegaskan bahwa komunitas mereka atau Padre Pio tidak pernah mengadakan “roti berantai” atau mengeluarkan resep pembuatan roti yang kemudian dikenal sebagai roti Padre Pio.

Kedua, sikap yang tepat untuk menghadapi peristiwa ini ialah tidak mempercayai apa yang tertulis, karena Vatikan tidak pernah mengeluarkan hal-hal yang magis dan takhayul seperti itu. Roti Padre Pio adalah roti berantai seperti surat berantai yang dahulu pernah ada. Karena itu, mata rantainya harus diputus dengan cara tidak melanjutkan pengiriman roti kepada orang lain.

Keselamatan dan perlindungan kita berasal dari Tuhan, yang menciptakan langit dan bumi. Karena itu, perlu tetap percaya bahwa iman kita kepada Allah Bapa Pencipta dan kepada Yesus Kristus, Penebus, itulah yang menyelamatkan. “Imanmulah yang menyelamatkan.” (bdk Mat 9:22; Mrk 5:34; Luk 7:50; 8:48; 17:19; 18:42).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*