Artikel Terbaru

Inner Beauty

[peppermintstyle.wordpress.com]
Inner Beauty
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Dalam hidup sehari-hari, kita saling mengamati antara satu dengan yang lain. Disadari atau tidak, ini bagian yang sangat wajar dalam keseharian kita. Saling menilai dan dinilai adalah dua hal yang saling bertukar tempat secara otomatis. Setidak-tidaknya, ini menjadi semacam pengukuh tentang eksistensi kita di dunia sebagai manusia yang sewajarnya. Memang tidak semua orang sangat ‘concern’ terhadap kehadiran orang lain, namun keberadaan orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan bagian dari kewajaran hidup yang kita terima begitu saja, apa adanya.

Menilai keberadaan manusia, biasanya diawali dengan melakukan penilaian tentang penampilannya berikut atribut yang menempel. Bahkan, tak jarang juga kita lebih banyak menilai dari atribut atau aksesoris yang menempel daripada hakikat dari manusia atau orang itu sendiri. Semakin banyak atribut yang menempel seperti banyaknya gelar, bagus tidaknya baju yang dipakai, bermerk atau tidak bermerk pakaian, sepatu, tas yang dikenakannya, tipe mobil dan tahun keluarannya, atau bahkan jumlah rumah, luas tanah yang dimiliki, dsb, dsb, maka semakin tinggi nilai orang tersebut di mata kita, dan tentu saja sebaliknya. Tidak heran, jika sewaktu kita membeli sesuatu di sebuah toko atau restoran besar dengan pakaian seadanya atau bahkan terkesan ‘miskin’ membuat kita diperlakukan beda atau bahkan mendapatkan pelayanan paling belakang. Tentu saja ini sangat menjengkelkan bukan?

Mungkin karena banyak orang mengejar atribut dan aksesoris yang menempel, hingga orang melakukan banyak cara sekadar untuk memenuhi ego agar bisa diterima oleh kalangan tertentu yang dianggap sebagai patron fashion atau patron kelas tertentu, atau bisa dianggap hebat, ‘wah’, sukses, kaya. Tidak heran, jika banyak cara dilakukan untuk melegalkan kebutuhan ini, hingga melakukan korupsi, membunuh karakter orang, menyakiti perasaan orang, gali lubang tutup lubang, melakukan tipu-menipu, mencari ijazah palsu, dan banyak cara hingga hal-hal yang tidak masuk akal.

Dalam hidup ini tidak pernah ada kata puas dan berhenti untuk sesuatu yang hanya mengejar kepuasan sesaat dan bersifat artifisial. Manusia tampaknya tidak akan pernah puas untuk mendapatkan kekayaan, uang, bahkan status sekadar agar bisa diterima orang lain dan dianggap ‘wah’. Akibatnya, mereka terjerumus dalam jurang penyesalan yang tidak ada habisnya. Padahal, semua itu hanyalah kepuasan semu dan sementara yang akan musnah terbawa evolusi hidup.

Lantas, apa yang perlu kita cari, apa yang bersifat tahan lama dan tidak pernah aus? Bukankah penampilan diri tetap merupakan hal yang utama untuk mendapatkan relasi sosial yang lebih baik, untuk mempertahankan sebentuk hubungan yang berjangka panjang, untuk mendapatkan tempat dalam pergaulan hidup? Jika kesemua atribut tidak begitu penting, manakah yang paling penting di atas segalanya?

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*