Artikel Terbaru

Misi Bersama Bangun Keluarga Katolik

Tim Komisi Kerasulan Keluarga KAJ berdiskusi MRT
[NN/Dok. Kom-KK]
Misi Bersama Bangun Keluarga Katolik
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comMembangun rumah tangga membutuhkan cinta antarpasangan. Program MRT menjadi sarana pastoral untuk mempererat cinta antarpasangan menuju keluarga Katolik sejati.

Setiap Minggu di paroki-paroki Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), seringkali dibacakan jadwal Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). KPP ini perlu karena kenyataan menunjukkan, beberapa keluarga mengalami kesulitan karena kurangnya persiapan sebelum menikah. Banyak calon pengantin tergesa-gesa menikah tanpa bimbingan yang memadai.

Melalui KPP, diharapkan calon pasangan suami istri memahami perkawinan dari sudut pandang teologi, psikologi, moral, kesehatan, ekonomi, seksualitas, dan gender. Namun setiap kali KPP, ada keluhan bahwa materi-materi yang diberikan belum menyentuh hal pokok, seperti unsur-unsur hakiki dan tujuan perkawinan Katolik. Kanon 1055 § 1 menyatakan, “Perkawinan terarah pada dua tujuan, yaitu bonum coniugum, ‘kesejahteraan suami-istri’ dan bonum prolis, ‘kelahiran dan pendidikan anak’. Ketidakpahaman ini mengakibatkan banyak pasangan suami istri merasa KPP tidak menarik dan membosankan.

Analogi Rumah
Untuk tujuan perkawinan Katolik yang suci dan kudus itu, Komisi Kerasulan Keluarga KAJ mendesain program baru yang diberi nama Membangun Rumah Tangga (MRT). MRT merupakan program pengembangan dari KPP yang dirancang Komisi Kerasulan Keluarga bersama tim kerja yang dipilih dari Dekanat se-KAJ.

MRT mempunyai empat fungsi, yaitu meneguhkan iman, meningkatkan pengetahuan yaitu mendidik dengan jelas dan tepat tentang Sakramen Perkawinan, meningkatkan keterampilan pasangan suami istri, serta meneguhkan iman calon pasangan suami istri untuk memberi kesaksian di tengah umat. Anggota tim perumus MRT Maria Francisca Endah Lestari mengatakan, kata “membangun” merupakan kata kerja yang menunjukkan bahwa calon pasangan suami istri harus aktif mempersiapkan rumah tangga mereka. Keaktifan ini tercermin dari program-program MRT yang melibatkan partisipasi aktif mereka. Dalam MRT, kata Endah, mereka harus aktif berpikir dan berdiskusi mengenai banyak hal sebelum membuat keputusan.

Senada dengan Endah, Romualdus Adrianto Gunawan menuturkan, tujuan MRT adalah membantu calon pasangan suami istri agar berkembang menjadi manusia utuh dalam jiwa, raga, kehendak, dan akal budi. Usaha membangun perkawinan bahagia itu terarah pada kebijaksanaan secara intelektual, jujur dan tulus dalam kehendak, terampil menggunakan tubuh dalam relasi dengan sesama dan Tuhan.

Adrianto menambahkan, dalam modul MRT, “Rumah” dipakai sebagai perumpamaan. Membangun keluarga Katolik ibarat membangun rumah. Ketika membangun rumah diperlukan perencanaan dan tim yang kompak. Begitu pula membangun keluarga Katolik, diperlukan perencanaan dan tim yang kompak, yaitu pasangan dan Tuhan. “Kalau rumah perlu dirawat, maka rumah tangga pun harus dirawat,” tegas umat Paroki St Helena Curug, Tangerang ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*