Artikel Terbaru

Bila Orangtua “Hobi” Bertengkar

[digitaldeconstruction.com]
Bila Orangtua “Hobi” Bertengkar
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Siapapun yang menempuh hidup berkeluarga, tentu paham bahwa peristiwa pertengkaran antara istri dan suami adalah hal yang wajar. Bila ada pasutri yang sejak hari pertama menikah hingga usia kakek-nenek belum pernah sekalipun bertengkar, kemungkinannya hanya dua: pasutri itu sempurna dalam kearifan menjalani kehidupan berkeluarga, atau sebaliknya, pasutri itu (salah satu atau keduanya) memiliki keterbatasan yang serius dalam kemampuan mengkomunikasikan perasaan-perasaannya.

Yang disebut ”wajar” dalam hal pertengkaran pada pasutri itu, normalnya berapa kali dalam periode waktu tertentu? Tentu sulit menentukan ”norma generik”-nya, karena hal ini relatif. Namun hampir bisa dipastikan, makin tinggi frekuensi pertengkaran, makin mengindikasikan adanya iklim ketidakharmonisan dalam kehidupan berkeluarga. Tak perlu menyebutkan siapa pasutri pelakonnya, tapi nyatanya memang ada pasutri yang frekuensi bertengkarnya cukup tinggi. Ada yang rutin setiap bulan, setiap minggu, bahkan setiap hari. Saking kerapnya bertengkar, sampai bisa disebut ”hobi” bertengkar.

Diakui atau tidak, suasana kehidupan berkeluarga yang diwarnai ritual pertengkaran terus-menerus (eksesif) sebenarnya tidak nyaman. Selain menguras energi (emosi, pikiran, dan batin) yang bisa berekses merugikan kesehatan mental, psikologis (bahkan fisik) bagi pasutri (orangtua) itu sendiri; juga bisa berekses merugikan bagi proses pertumbuhkembangan anak-anak, terutama yang masih berusia batita, balita, kanak-kanak, dan remaja. Karena keterbatasan kolom ini, tinjauan kilas lebih difokuskan pada ekses-ekses kerugiannya bagi anak.

Bila relasi antara figur ayah dan ibu (orangtua) diwarnai agenda pertengkaran yang kronis, ekses yang paling nyata dan terhayati secara langsung oleh anak adalah ”rasa hidup” yang tidak tenteram. Iklim ketidaktenteraman hidup ini menimbulkan perasaan rusuh, tegang, khawatir, dan takut yang saling berkomplikasi sedemikian rupa dalam jiwa anak. Bila ini terjadi, anak akan terhambat dalam proses adaptasi, pengendalian emosi, daya tahan menghadapi tekanan (stres), dan dalam relasi dengan lawan jenis. Hambatan ini biasa terjadi dalam proses bertumbuhkembangnya di saat masih diasuh sebagai anak maupun di saat dewasa di kemudian waktu.

Hambatan adaptasi. Anak berusia batita, balita, dan kanak-kanak umumnya masih dalam periode bertumbuh kembang di tingkat awal. Mereka masih memiliki keterbatasan baik dalam fungsi dan daya psikologis-mental, dalam hal pengalaman maupun ketahanan menghadapi rangsangan-rangsangan dari luar dirinya (eksternal). Istilah psikologi perkembangan: mereka belum cukup matang dalam berbagai aspek pertumbuhkembangannya ditolok dari ukuran orang dewasa. Pertengkaran orang dewasa (sebagaimana dilakukan orangtuanya) adalah momen-momen ungkapan (bahkan seringkali ledakan) perasaan yang sarat dengan emosi kemarahan, saling menghakimi, dan saling berebut untuk mendapatkan posisi kebenaran yang boleh jadi sangat” abstrak” untuk bisa dicerap apalagi dipetakan dalam medan pikiran dan perasaan anak yang masih sederhana.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*