Artikel Terbaru

Maria Bertanya, Tidak Dihukum

Maria Bertanya, Tidak Dihukum
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBaik Zakharia maupun Maria mengajukan pertanyaan kepada malaikat (Luk 1:18; 1:34), tetapi Zakharia dihukum, sedangkan Maria diberkati. Mengapa ada perbedaan?

Liem Karmelita, Bogor

Pertama, jika dilihat dari sudut pertanyaan, memang Zakharia dan Bunda Maria sama-sama mengajukan pertanyaan. Yang tidak langsung nampak dalam kata-kata pertanyaan secara tertulis itu ialah sikap dasar yang melatarbelakangi timbulnya pertanyaan itu. Seandainya kita bisa mendengarkan kedua pertanyaan itu secara lisan, tentu nada pertanyaan keduanya sangat berbeda. Nada pertanyaan sangat dipengaruhi sikap batin yang merupakan sumber dari pertanyaan itu.

Kedua, perbedaan sikap batin itu bisa kita ketahui dari reaksi yang berbeda dari Allah. Pertanyaan Zakharia menunjukkan ketidakpercayaan kepada warta malaikat (Luk 1:20). Karena ketidakpercayaan ini, maka Zakharia dihukum dengan menjadi bisu. Baru pada saat akan memberi nama anaknya laki-laki itu, ikatan lidah Zakharia terlepas sehingga ia dapat berbicara untuk mewartakan karya Allah.

Meskipun sama-sama bertanya, Bunda Maria tidak dihukum karena Bunda Maria percaya pada pewartaan Malaikat Gabriel dan ingin memperjelas jalan Allah, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami.” Tujuan pertanyaan Maria bukan untuk meragukan, tetapi supaya dia bisa bekerjasama lebih lanjut. Pertanyaan Maria adalah cermin sikap Maria yang percaya dan proaktif, bukan sekadar diam pasif. Sikap pasrah dan proaktif bisa disimpulkan dari dua peristiwa lain, yaitu pada saat para gembala mengunjunginya (Luk 1:19) dan pada saat menemukan Yesus kembali di Kenisah (Luk 2:51), yaitu sikap Maria yang menyimpan semua penyataan Allah dalam hati dan merenungkannya. Ini adalah sikap seorang murid yang berhadapan dengan rencana Allah yang misterius, tetap taat dan mencari kejelasan kehendak Allah lebih lanjut. Menilik perbedaan sikap dasar ini, kita bisa mengerti jika ada perbedaan reaksi Allah kepada masing-masing.

Jika menyimak Lukas 11:27-28 dan Matius 12:46-49, mengapa Yesus tidak mengakui dan menolak Maria sebagai ibu-Nya?

Myriam Damiana, Semarang

Memang bisa muncul kesan bahwa Yesus tidak mengakui dan menolak Maria sebagai ibu biologis-Nya. Tapi jika kita merenungkan secara lebih cermat dan mendalam, sebenarnya Yesus bukan menyangkal Maria sebagai ibu-Nya, tetapi mengajak melihat Maria secara berbeda. Baik ibu yang memuji bahagia wanita yang melahirkan dan menyusui Yesus (Luk 11:27-28) maupun para murid yang memberitakan kehadiran ibu dan saudara-saudari Yesus (Mat 12:46-49), mereka sama-sama melihat Maria dari sudut biologis, yaitu adanya ikatan darah daging antara Yesus dengan Bunda-Nya. Tanggapan yang diberikan Yesus sebenarnya merupakan ajakan kepada para pendengar-Nya agar “naik kelas” dengan melihat Bunda Maria dari sudut rohani, yaitu dalam hal mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Dengan kata lain, Bunda Maria pantas disebut sebagai ibu-Nya bukan hanya karena alasan ikatan darah daging dengan Yesus, tapi terutama karena Bunda Maria adalah pribadi yang secara istimewa mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah.

Sikap Bunda Maria ini nampak jelas dalam beberapa kesempatan. Pada waktu pewartaan Kabar Gembira oleh Malaikat Gabriel, Maria menunjukkan sikap pasrah dan proaktif melaksanakan Sabda Allah (Luk 1:34.38). Juga pada waktu kunjungan para gembala (Luk 1:19) dan pada saat penemuan kembali Yesus di Kenisah (Luk 2:51), Bunda Maria menyimpan semua itu di dalam hatinya dan mencari pengertian yang lebih mendalam tentang yang dikehendaki Allah. Iman dan kesetiaan Maria ditunjukkan sampai di bawah kayu salib. Jadi, dalam dua perikop yang dirujuk dalam pertanyaan, Yesus hendak memuji Maria yang sangat pantas menjadi ibu-Nya karena dialah pendengar dan pelaksana Sabda yang paling unggul.

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 43 Tanggal 23 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*