Artikel Terbaru

Istri Merasa Tak Dicintai Lagi

[Ilustrasi HIDUP]
Istri Merasa Tak Dicintai Lagi
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh Yth, Juni 2010 ini, genap tiga tahun kami hidup berkeluarga. Suka duka sudah kami alami bersama. Anak kami, kembar kini berusia 2 tahun, sudah pandai berceloteh sehingga menambah hidup suasana sehari-hari di rumah kami. Dalam karir, sebagai pengajar di suatu universitas swasta saya juga mendapatkan peningkatan jenjang struktural (diangkat menjadi ketua jurusan).

Namun demikian, sebagai suami, beberapa waktu ini saya merasa ada ganjalan dalam relasi dengan istri. Ini terkait dengan keluhan istri yang disampaikan kepada saya sebulan yang lalu. Waktu itu, saya baru saja pulang dari rapat di kantor, sekitar pukul 21.00 (sejak saya diangkat menjadi ketua jurusan, saya memang kerap pulang agak malam, karena di kampus saya juga melayani kelas malam).

Saat membukakan pintu, saya lihat raut muka istri saya cemberut. Hal itu sangat berbeda dengan kebiasaan istri saya. Saya tidak langsung bertanya saat itu, mengapa dia cemberut. Baru pada saat menjelang tidur, saya bertanya mengapa dia cemberut. Sambil membelakangi saya, dia mengatakan bahwa dia merasa saya tidak lagi mencintainya seperti dulu. Peristiwa malam itu agak aneh, karena biasanya istri saya sangat jarang memulai pembicaraan. Selama ini pola komunikasi antara kami memang kurang seimbang. Saya yang lebih banyak bicara, dan istri saya lebih banyak mendengarkan.

Saat itu, saya langsung bereaksi dengan menanyakan mengapa dia bertanya demikian. Juga saya tanyakan apa bukti-buktinya kalau saya tidak mencintainya lagi. Terus terang saat itu saya jengkel, sehingga nada bicara saya memang agak ‘naik’ (emosional).

Dia tidak menjawab, malah menangis. Esok harinya, dia tak menyinggung-nyinggung lagi insiden itu, dan mengatakan, “Maaf ya Mas, tadi malam itu entah mengapa kok saya uring-uringan…” Saya coba konfirmasikan lagi, dengan meminta penjelasan apa yang dimaksud dengan “tidak lagi mencintainya seperti dulu”. Tapi dia malah mengatakan, “Sudahlah,…sorry, itu hanya kecengengan saya.” Selanjutnya, saya tak mengungkit lagi semua itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*