Artikel Terbaru

Menghukum Peselingkuh

[porlakhita.blogspot.com]
Menghukum Peselingkuh
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Ada dua hal yang menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis di mingguan ini tentang selingkuh juga. Namun, pada waktu itu karena memang ada beberapa pertanyaan yang mampir ke telinga saya dan saya merasa perlu untuk menuliskannya sebagai bentuk sharing terhadap problem tersebut. Membahas topik ini memang menarik karena menjadi problem keseharian kita dan menyentuh sisi dalam dari kehidupan perkawinan atau relasi intim antara pria dan wanita.

Dua hal yang memberikan inspirasi tersebut adalah: pertama, saat saya berada di lembaga layanan kami di Semarang, saya melihat sepasang suami-istri yang duduk menunggu jadwal konseling. Melalui bahasa tubuh dan roman muka, saya memperkirakan telah terjadi badai di antara mereka berdua. Ternyata, memang benar, problem yang muncul adalah suami yang marah besar setelah mengetahui istrinya berselingkuh dan menduga bahwa hubungan tersebut telah melangkah begitu jauh. Sementara di satu sisi, si istri menolak tuduhan tersebut.

Peristiwa kedua yang memberikan inspirasi adalah pertanyaan yang ditujukan kepada saya dalam sebuah pertemuan resmi tentang hukuman apa yang pantas diberikan kepada seseorang yang sudah jelas teridentifikasi berselingkuh. Pada saat itu sambil lalu saya mengatakan bahwa saya perlu memahami dengan jelas problemnya sehingga saya tidak memberikan jawaban pasti. Saya beranggapan, masalah selingkuh bukanlah masalah yang bisa dijawab secara hitam putih sebagai benar dan salah.

Dalam pandangan saya, selingkuh adalah sebuah hubungan yang tidak fair antara pria dan wanita yang mencederai komitmen bersama. Perilaku selingkuh bisa dipahami dalam konteks yang lebih luas, tidak semata-mata dalam relasi pria dan wanita. Namun, dalam tulisan ini saya membatasi pengertiannya. Perilaku ini bisa dikatakan lazim dilakukan banyak orang. Meski mungkin banyak orang menolak telah melakukannya. Selingkuh memang tidak bisa dipahami sebagai bentuk perilaku yang dilakukan secara aktual atau nyata, bisa saja secara imajinatif orang melakukannya. Dengan sekadar membayangkan objek yang dirasa bisa memberikan kepuasan baik psikologis maupun seksual sudah bisa dikatakan selingkuh. Kita bisa berdebat dalam hal ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*