Artikel Terbaru

Anak Berdalih Karena Latar Ortu

Anak Berdalih Karena Latar Ortu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSalam, Pengasuh. Saya punya anak gadis, usianya 25 tahun. Dia menjalin hubungan dengan pria sejak dua tahun silam. Pacar anak saya bukan Katolik. Sebagai orangtua, saya khawatir anak saya “menyeberang”. Saya dan istri sudah menyarankan sebelum hubungan mereka terlalu jauh sebaiknya dihentikan. Anak saya marah. Saya akui, latar belakang saya dan istri semula juga berbeda agama. Istri menjadi Katolik ketika menikah dengan saya. Latar belakang kami inilah yang menjadi alasan atau pembelaan diri putri kami. Mohon saran, apa yang bisa kami lakukan sebagai orangtua?

Stefanus Antonius Guntur, Malang

Salam kembali, Pak Stefanus. Saya memahami situasi Bapak. Kasus seperti ini banyak dialami oleh keluarga lain. Sebagai konsekuensi dari golongan minoritas yang hidup bersama golongan lain, kemungkinan terjadi relasi yang akrab, intens, pacaran, bahkan perkawinan campur lebih besar. Wajar jika orangtua berharap putra-putrinya mendapatkan pasangan seiman sehingga kondisi ananda yang sudah dewasa dan punya pacar tak seiman, membuat Bapak takut terutama jika relasi mereka berlanjut ke pernikahan.

Sebelumnya, Bapak perlu menjawab dengan jujur, apakah hanya permasalahan beda agama ini yang membuat prihatin dan takut jika ananda “menyeberang”? Atau mungkin ada masalah lain? Apakah Bapak juga mengalami banyak masalah atau tantangan pada masa lalu, dalam mempersiapkan dan menjalankan biduk rumah tangga, sekalipun akhirnya bisa membimbing istri mengimani Kristus?

Mungkin juga Bapak memandang, dulu Bapak adalah calon kepala keluarga sehingga lebih mudah membimbing pasangan, berbeda dengan kondisi putri Bapak saat ini. Pengalaman seperti ini berpengaruh pada cara pandang Bapak dalam menghadapi kasus serupa.

Di lain sisi, coba Bapak mendengar pandangan ananda sendiri. Dengan mempertimbangkan faktor usianya 25 tahun, dia berada pada tahap perkembangan dewasa dan matang, baik dilihat dari sisi fisik, kognitif, sosial, maupun emosional. Sudah selayaknya ananda berada dalam fase mencari calon pasangan hidup.

Apakah betul dia mengesampingkan perbedaan agama karena kuatnya perasaan cinta? Apakah hubungan mereka sudah pada tahap serius atau masih dalam tahap penjajakan? Apakah mereka pernah membicarakan tentang perbedaan agama? Jika sudah, bisa ditanyakan bagaimana sikap calon pasangannya.

Bagaimana pandangan ananda mengenai pernikahan? Bila pandangannya sangat sederhana, bisa diberikan pengetahuan tentang tugas, tanggung jawab, dan ragam persoalan dalam pernikahan beda agama tanpa terkesan menggurui.

Bapak harus berkomunikasi lebih intens dari hati ke hati dan dalam suasana santai. Lebih banyak mendengarkan, tidak menginterupsi, tidak berprasangka, dan tidak saling memaksakan kehendak pribadi. Orangtua pada dasarnya menginginkan yang terbaik untuk putra-putrinya. Namun ananda juga punya pertimbangan dan hak untuk menjalankan kehidupannya sendiri. Dengan kata lain, orangtua tidak punya hak veto atas masa depan anak. Orangtua hanya memberikan pertimbangan yang bijak dan mengawal dari belakang.

Kemarahan yang ditunjukkan ananda kemungkinan karena saran orangtua dirasakan sebagai perintah yang tak bisa ditawar atau didiskusikan. Di samping itu, lebih bijak bila Bapak membuka diri dan berupaya untuk lebih mengenal pacar ananda, melihat kelebihan dan kekurangan, memastikan apakah pacar ananda adalah orang yang bertanggung jawab, dewasa, sayang dengan keluarganya maupun keluarga Bapak, dan komunikatif.

Telusuri juga bagaimana latar belakang kehidupan keluarga, status pekerjaan, karakteristik kepribadian, dan kekuatan imannya. Dengan begitu, Bapak bisa memberikan penilaian yang lebih utuh tentang pacar ananda. Mungkin ananda lebih menerima masukan dari Bapak bila banyak pertimbangan lain. Senantiasa bawalah dalam doa agar ananda mendapatkan pasangan terbaik.

Praharesti Eriany

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 43 Tanggal 23 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*