Artikel Terbaru

Sr Lucia CIJ: Pelayan Mutiara di Pinggir Jalan

Sr Lucia CIJ
[Avent Saur SVD]
Sr Lucia CIJ: Pelayan Mutiara di Pinggir Jalan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comTak sedikit orang menyingkir begitu berjumpa dengan penderita gangguan jiwa. Ia justru berkebalikan, menyapa dan merawat mereka. Ia yakin mereka adalah mutiara Allah di jalan.

Meluluhkan perasaan orang tak mudah bagi kita. Butuh kiat khusus dan ekstra sabar. Bisa dibayangkan jika menaklukkan hati orang biasa saja sulit, bagaimana jadinya jika ingin melumerkan hati mereka yang mengalami gangguan jiwa? Mungkin lebih sukar, tapi tak demikian bagi Suster Lucia CIJ. Apa yang menjadi “senjata” Sr Lucia untuk misi itu? Novena, jawabannya.

Alkisah, di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, ada perempuan bernama Lola. Ia amat dikenal warga lantaran selalu membawa rongsokan ke sana ke mari. Tapi Lola bukan pemulung. Kata orang, pikirannya “korslet” sejak 15 tahun lalu. Penipuan, pemerkosaan, dan penganiayaan membuat ia depresi hingga hilang akal.

Sr Lucia prihatin melihat Lola saat berada di Ende. Perasaan itu menggerakkan dia untuk merangkul dan mengajak Lola kekediamannya, Panti Santa Dymphna Maumere, Flores. Tapi Lola bergeming. Setelah berbagai usaha gagal, Sr Lucia membawa nama perempuan itu dalam intensi novena sembilan hari. Begitu kembali ke Ende, ia mengajukan permintaan yang sama kepada Lola. Syukurlah, Lola bersedia. Tapi ada satu catatan dari dia, semua rongsokan harus ia bawa serta.

Tempat Sampah
Lain Lola, lain Germana Ger. Ger sudah 30 tahun hidup di jalan. Ia makan dengan meng orek-ngorek tempat sampah. Lola dan Ger sama-sama mengalami gangguan jiwa dan semula menolak tinggal di panti.

Ger dan Sr Lucia tak sengaja berjumpa di tengah jalan. Kala melintas di samping kantor Departemen Agama, biarawati Tarekat Pengikut Yesus (Congregatio Imitationis Jesu, CIJ) melihat perempuan itu sedang mengerat makanan di tempat pembuangan. Sr Lucia kaget menyaksikan pemandangan itu.

Sr Lucia mengajak Ger ke panti, namun undangan itu dianggap angin lalu. Pekan berikut, mereka bertemu kembali. Lagi-lagi perjumpaan itu terjadi alami. Suster kelahiran Bajawa, Flores, 19 September 1966 ini mengajak Ger ke panti. Reaksi Ger berbeda dari yang pertama. Ia bersedia ikut bersama Sr Lucia ke panti.

Begitu tiba di panti, Sr Lucia memandikan, mengenakan pakaian layak, dan memberinya makan. Namun Ger langsung meluncur pergi. Ia belum sudi tinggal di panti. Sr Lucia berusaha untuk mengajak Ger kembali tinggal di panti dan menjadikan Ger sebagai perempuan yang sedap dipandang mata.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*