Artikel Terbaru

St Manuel González y García (1877-1940): “Uskup Tabernakel” dari Sevilla

Mgr Manuel González y García
[sainteucharisti.com]
St Manuel González y García (1877-1940): “Uskup Tabernakel” dari Sevilla
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comIa sangat mencintai Ekaristi. Hatinya terpukul ketika melihat Hosti Kudus berjamur. Ia pun mendirikan tarekat untuk menghormati Sakramen Mahakudus.

Sara Ruiz Ortega terbaring lemah di tempat tidur. Dokter memvonis, usia Sara tinggal tiga bulan. Tuberculosis (TBC) kian merongrong tubuh gadis 18 tahun asal Spanyol itu. Tubuhnya makin kurus. Keluarga kebingungan mencari cara menyelamatkan nyawa si buah hati.

Di tengah kebingungan itu, ibu Sara berdoa lewat perantaraan Mgr Manuel González y García. Ternyata, usia yang diprediksi dokter terlewati. Kesehatan Sara berangsur pulih. Selera makannya membaik dan TBC pun perlahan lenyap. Mukjizat kesembuhan Sara inilah yang membuka jalan tol proses beatifikasi Mgr Manuel.

Bocah Saleh
Manuel González y García lahir di Sevilla, Spanyol, 25 Februari 1877. Ia adalah putra pasangan Martín González Lara dan Antonia García. Orangtuanya dikenal sebagai pribadi yang saleh dan suka membantu. Mereka tak menolak siapa saja yang meminta bantuan. Ayahnya adalah seorang yang rendah hati. Sementara ibunya sering dipanggil El Amor de la Madre, “Ibu yang penuh kasih”.

Rupanya, jiwa sosial ayah dan ibunya tertanam dalam hati putra keempat dari lima bersaudara ini. Saat usianya menginjak remaja, Manuel senang sekali bila diajak jalan-jalan atau keluar rumah, karena ia bisa leluasa membeli barang-barang yang diinginkan dengan tabungan
pribadinya. Tapi, barang-barang itu bukan untuk dipakai sendiri. Ia malah membagibagikannya kepada anak-anak tunawisma di Sevilla.

Soal hidup rohani, tak perlu diragukan. Setiap Minggu, Manuel tak pernah alpa dari Misa. Ketika mengikuti Misa, ia sungguh-sungguh
menunjukkan penghormatan yang amat tinggi kepada Sakramen Mahakudus. Ia sering dimusuhi saudara-saudaranya karena setiap pagi selalu membangunkan mereka untuk diajak pergi ke gereja. Selain mencintai Ekaristi, Manuel juga dikenal aktif di kor paroki. Ia senang menyanyikan lagu-lagu Gregorian. Tiap kali bernyanyi, ia menghayatinya sebagai kesempatan untuk berdoa kepada Tuhan.

Suatu hari saat makan bersama, Manuel meminta izin kepada orangtuanya untuk mendaftarkan diri masuk seminari. Spontan Martín menolak. Ia melarang keras Manuel masuk seminari karena di antara anak-anaknya, Manuel dianggap paling cerdas. Martín sudah mempersiapkan Manuel untuk menjadi penggantinya, meneruskan usaha keluarga. Ia bahkan mengiming-imingi Manuel dengan kesempatan pesiar, kalau ia mau membatalkan niatnya. Namun tekad Manuel tetap bulat. “Meskipun saya terlahir seribu kali, saya tetap akan menjadi imam,” ungkapnya kepada sang ayah.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*