Artikel Terbaru

Seksi Lingkungan Hidup Paroki MKK, Meruya: Setia Merawat Bersama Umat

Pelatihan daur ulang sampah bersama warga sekitar Paroki MKK Meruya.
[NN/Dok. Paroki Meruya]
Seksi Lingkungan Hidup Paroki MKK, Meruya: Setia Merawat Bersama Umat
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comAda begitu banyak cara merawat bumi agar menjadi rumah yang nyaman. Paroki Maria Kusuma Karmel (MKK) Meruya, Jakarta mencanangkan aneka program guna mengedukasi umat agar merawat bumi.

Bisa jadi, ungkapan “bumiku sayang, bumiku malang” mewakili ekspresi keprihatinan terhadap bumi, hunian umat manusia. Dampak pemanasan global kian terasa dengan perubahan iklim yang tak terkendali. Di wilayah tertentu, bulan yang seharusnya jadi musim kemarau, malah berganti jadi musim hujan. Sementara di wilayah lain, kemarau berlangsung sangat panjang sehingga membuat para petani gagal panen. Sekecil apapun bentuknya, dapat dipastikan bahwa manusia telah berkontribusi terhadap masalah iklim dan kerusakan bumi. Misal, menebang pohon sembarangan, membuang sampah tidak pada tempatnya, membuang limbah rumah tangga ke sungai, dll.

Menyikapi hal ini, banyak komunitas bermunculan dengan misi menyelamatkan bumi. Paroki-paroki di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) pun bergeliat untuk mewujudkan belarasa terhadap lingkungan yang kian rusak. Salah satunya ialah Paroki MKK Meruya, Jakarta Barat. Paroki yang digembalakan oleh imam Ordo Fratrum Beatissimae Mariae Virginis de Monte Carmelo (OCarm) ini mencanangkan beberapa program untuk mengurangi penggunaan bahan plastik dan mengubah sampah jadi berkah.

Pantikfoam dan BBM
Ketua Seksi Lingkungan Hidup (SLH) Paroki Meruya, F.X. Hidayat Setiono menjelaskan, sejak beberapa tahun belakangan, Paroki mencanangkan gerakan pantang plastik dan sterofoam (pantikfoam) di gereja. Ketika mengadakan acara di gereja, seperti seminar dan pesta pernikahan, SLH tak lelah mengingatkan umat agar tidak menggunakan plastik dan sterofoam. Kini, penggunaan plastik dan sterofoam di Gereja MKK sudah sangat berkurang.

Di samping pengurangan plastik dan sterofoam, SLH juga memberlakukan sistem larangan merokok, mulai dari lahan parkir hingga seluruh kawasan gereja. Ini berlaku untuk semua umat, karyawan, bahkan romo. “Begitu masuk pintu pagar paroki, itu sudah kawasan bebas rokok,” ujar Hidayat.

Kampanye pengurangan bahan plastik juga digandakan lewat BBM, yakni Bawa Botol Minum (BBM). Gereja sudah menyiapkan sejumlah Reverse Osmosis Water (RO Water) di lingkungan gereja guna memudahkan umat mengisi ulang botol-botol minum yang mereka bawa. Apresiasi akan diberikan kepada umat yang membawa botol minum setiap Minggu keempat dalam bulan. Mereka yang menunjukkan botol minum di stand Pojok Lingkungan Hidup akan dihadiahi satu jenis anakan tanaman. Berbagai jenis tanaman sudah disiapkan, seperti tanaman obat-obatan dan buah-buahan.

Sekretaris SLH Paroki Meruya, Cynthia Fellicianne mengatakan, pembagian anakan tanaman ini seperti gimmick agar untuk umat membawa botol minum. “Kami juga mengadakan edukasi kepada umat. Pada saat pemberian tanaman, sudah ada katalog-katalog mengenai informasi tanaman yang diberikan,” jelasnya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*