Artikel Terbaru

Yesus Memang dari Allah?

Yesus Memang dari Allah?
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Dalam salah satu video di Youtube, Dr. Zakir Naik, seorang pendakwah Muslim internasional, melemparkan tantangan, jika Kristen mampu menunjukkan teks Alkitab yang jelas menunjukkan Yesus sendiri berkata bahwa Dia adalah Tuhan, maka pada saat itu juga Dr. Zakir Naik akan menjadi Kristen. Wow!

Dr. Zakir Naik betul. Dalam empat Injil, Yesus tak pernah mengatakan, “Aku ini Allah.” Namun andaikata pun ada ucapan semacam itu, orang masih dapat membantah, itu susupan belakangan. Siapa Yesus sebenarnya tidak kita ketahui dari satu dua ucapan, melainkan dari keseluruhan cara Yesus membawa diri, dari apa yang dilakukan-Nya, dari wewenang mana yang diklaim-Nya.

Yang sejak hari pertama mencolok adalah reaksi orang. Mereka takjub. Mereka merasakan bahwa bersama Yesus datanglah keselamatan. Orang lumpuh yang bertemu dengan Yesus dan percaya bisa berjalan, orang tuli mendengar lagi, orang buta dapat melihat. Kehadiran Yesus menyembuhkan. Pengajaran Yesus mencengangkan. Kata mereka, “Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mat 7:28s).

Yesus melakukan hal-hal yang hanya dapat dilakukan Allah sendiri. Ia mengampuni dosa. Waktu Yesus mengampuni dosa orang lumpuh, para ahli Taurat menegur, “Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah sendiri?” (Mrk 2:7). Memang! Kalau Yesus mengampuni dosa, Ia mengklaim wewenang Allah sendiri. Ternyata beberapa kali orang mengangkat batu untuk melempari Yesus sebagai penghujat (Yoh 8:59;10,31) (dan atas tuduhan penghujatan Allah Yesus dihukum mati oleh Mahkamah Agama Yahudi, Mrk 14:64).

Secara rutin Yesus bicara seakan-akan Ia memiliki wewenang Allah sendiri. Dalam khotbah di gunung, enam kali Yesus mengatakan, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita. Tetapi Aku berkata kepadamu….” Padahal yang memfirmankan Taurat kepada bangsa Israel adalah Allah sendiri. Dengan mengoreksi firman Allah, Yesus menempatkan diri sederajat dengan Allah, Pemberi Taurat.

Yesus terus-menerus menunjukkan diri berwewenang Ilahi. Melawan kritik orang-orang Farisi, Yesus mengatakan, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Putra Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk 2:23-28). “Putra Manusia” adalah sebutan Yesus tentang diri-Nya sendiri. Jadi Yesus menyebutkan diri Tuhan atas hari Sabat! Pada lain kesempatan Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi bait Allah” (Mat 12:6). Yesus melebihi Bait Allah!

Para nabi bicara atas nama Allah, tetapi Yesus bicara atas namanya sendiri. Yesus biasa, tepatnya 74 kali dalam empat Injil, membuka pengajaran dengan “Amin, Aku berkata kepadamu….” (Mat 5:18). Padahal memulai suatu pernyataan dengan “Amin” berarti menuntut kepercayaan mutlak dari mereka yang mendengarkan. Padahal hanya Allahlah yang berhak menuntut kepercayaan mutlak! Yesus menyatakan bahwa dalam diri-Nya Kerajaan Allah sudah datang. “Jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Mat 12:28). Karena itu, Yesus menegaskan bahwa keselamatan manusia tergantung dari sikapnya terhadap Yesus.

Yesus memanggil mereka yang mau mengikuti Dia untuk “memikul salib mereka dan mengikuti Aku”, karena “barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 10:38.39). Bedanya, hanya nabi memanggil orang kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri. Nabi atau guru rohani mana yang akan berani mengatakan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Yesus mengatakan demikian karena, seperti Ia mengatakan kepada Filipus, “barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Begitu pula Thomas diizinkan Yesus menyebutkan-Nya, “Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28).

Jelaslah, Yesus justru bukan hanya seorang nabi. Yesus sebagaimana Ia secara konsisten diberitakan dalam empat Injil hanya mengizinkan dua sikap. Ia dianggap sebagai seorang penghujat yang megaloman; itu sikap lawan-lawan-Nya. Atau Ia dipercayai sepertinya Ia menyatakan diri: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Putra Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan- Nya” (Yoh 1:18).

Franz Magnis-Suseno SJ

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 43 Tanggal 23 Oktober 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*