Artikel Terbaru

Diana Wodon: Malaikat-Malaikat Penolong

Diana usai operasi dan menjalani perawatan di rumah sehat di Yogyakarta.
[NN/Dok.Pribadi]
Diana Wodon: Malaikat-Malaikat Penolong
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comJauh dari kampung halaman dan sendirian masuk ruang operasi. Tuhan tak pernah meninggalkan umat-Nya. Jauh sebelum kita meminta kepada-Nya.

Diana Wodon adalah guru muda di sebuah sekolah Katolik di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, Papua. Kala usianya masih amat belia, serta tak sedikit pula impian yang ingin dia genggam, gadis kelahiran Maumere, Flores Nusa Tenggara Timur, 28 tahun silam ini harus berhadapan dengan penyakit yang kapan saja bisa merenggut nyawanya.

Terlalu tenggelam dalam tugas-tugas di sekolah, membuat Diana abai memperhatikan benjolan di payudaranya. Diana semula tak mengerti benjol yang diidapnya adalah tumor. Dia baru mengetahui kondisinya dari dokter, itu pun ketika benjolan telah membesar. “Jangan tunda operasi. Agar sel-sel tumor tidak makin berkembang dan merusak organ tubuh lain”, kata Diana meniru pesan dokter Herlina, perawatnya.

Sentuhan Sesama
Pesan dan penjelasan dokter membuat semangat aktivis orang muda Paroki Hati Kudus, Tanah Merah, Keuskupan Agung Merauke ini redup. Dia tak lagi getol terlibat di kegiatan paroki. Tanggung jawabnya di sekolah pun terbengkelai. Dia merasa hidupnya akan segera berakhir. “Saya marah kepada Tuhan. Cemas dan kuatir karena saat kematian saya akan segera tiba”, katanya mengenang.

Keluarga besarnya terutama orangtua, Markus Wodon dan Maria Fonataba ikut sedih dan kuatir akan keselamatan putri mereka. Desakan dokter Herlina agar Diana segera mengangkat sel-sel tumor yang bersarang di payudara kanannya, memecut Diana segera mengambil sikap.

Diana memutuskan ke Yogyakarta untuk melakukan operasi. Perjalanan dari kampung halamannya menuju Kota Gudeg itu sangatlah melelahkan. Dia harus menempuh perjalanan selama sepuluh jam dengan pesawat, ditambah membawa tumor di tubuhnya yang kian kritis. Persoalan biaya orangtua hanya bisa mendoakan dari jauh.

Begitu tiba di salah satu rumah sehat swasta di Yogyakarta, Diana segera masuk ruang pemeriksaan. Tak ada seorang pun yang menemaninya ketika itu. Dia juga tak mengenal satu orang pun di Yogyakarta yang bisa menemaninya jika saat terburuk itu sungguh menjemputnya. Dalam kekalutan dan kesendirian, Diana tak kuasa membendung air matanya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*