Artikel Terbaru

Eugenius Pradipto: Memuliakan Kayu dan Bambu

Eugenius Pradipto sedang bekerja dengan kayu dan bambu.
Eugenius Pradipto: Memuliakan Kayu dan Bambu
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comKecintaan pada kayu dan bambu nampak dalam setiap karya arsitekturnya. Pemerintah dan masyarakat masih memandang sebelah mata bangunan dari kayu dan bambu.

Penampilan pria ini memang lebih mirip seorang seniman. Rambutnya dibiarkan panjang, jambang dan kumis pun tumbuh lebat. Tapi, ia sebenarnya seorang dosen dan peneliti. Dari tangannya mengalir aneka karya arsitektur yang khas berbahan dasar kayu dan bambu.

Kecintaan pria bernama lengkap Dr. Ing. Eugenius Pradipto ini kepada kayu dan bambu bermula dari keprihatinan. Ia menatap banyak bangunan di Indonesia yang berbahan dasar beton, yang sama sekali tidak cocok dengan kondisi tanah Indonesia yang labil. Indonesia adalah kawasan yang rawan dengan gempa bumi. “Tapi sayang, kesadaran itu masih kurang,” ujar doktor arsitektur jebolan Universitas Stuttgart Jerman ini.

Pria kelahiran Gunung Kidul, DI Yogyakarta, 29 Oktober 1956 yang getol memperjuangkan bangunan peduli lingkungan sejak 1986 ini menegaskan, bangunan yang cocok di Indonesia adalah bangunan berbahan dasar kayu dan bambu. Bangunan beton empat kali lipat lebih berat dibandingkan bangunan yang terbuat dari kayu atau bambu, sehingga jika terkena goyangan gempa, bangunan beton berisiko amat tinggi. “Jika dengan bambu atau kayu, bangunan jauh lebih ringan dan lentur, sehingga mampu meredam goyangan gempa. Beton itu cukup untuk membuat kerangka bangunan saja, sementara yang lain buatlah dari kayu atau bambu,” ujar pria yang kerap disapa Pak Dip ini.

Kampung Naga
Kecintaan dengan kayu dan bambu, membuat Pradipto terus belajar tentang dua bahan dasar bangunan ini. Ia banyak belajar dari konstruksi bangunan tradisional Indonesia yang menggunakan kayu dan bambu, seperti di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia mempelajari rumah-rumah penduduk di Kampung Naga selama tiga tahun. “Mereka memiliki teknik konstruksi yang sangat-sangat tinggi dan dilakukan secara turun-temurun,” ujar Pradipto.

Masalah utama kayu dan bambu adalah rentan dimakan rayap. Untuk menghalau rayap, masyarakat di Kampung Naga membuang sampah jauh dari bangunan. Rayap amat suka dengan sampah dan tempat yang lembab. “Jika sudah diberi makan, maka rayap tidak akan memakan bangunan. Ini kearifan lokal yang tak perlu memutus rantai makanan, namun membiarkan semua hidup dan berjalan alami.”

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*