Artikel Terbaru

Jalan Salib, Ziarah Umat yang Menderita

Jalan Salib, Ziarah Umat yang Menderita
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDalam devosi jalan salib, kita merenungkan penderitaan Kristus dan penderitaan kita untuk menemukan harapan dan jalan baru.

Di taman Santo Yusup Sindanglaya, Cipanas, Jawa Barat, ada jalan salib yang menarik kelompok peziarah. Menjalaninya sendiri pada Jumat sore, saya bisa teringat akan via crucis yang setengah abad lalu sebagai mahasiswa S-3 sering saya ikuti di Via Dolorosa di Yerusalem. Hubungan antara kedua jalan salib itu memiliki sejarah panjang. Sejak abad keempat ada kesaksian para peziarah ke Tanah Suci. Ada yang berziarah ke tiga gereja di Golgota, ada yang melanjutkan juga ke tempat suci lain yang mengenang sengsara Yesus: Taman Getsemani, rumah Imam Besar. Tetapi belum terbentuk jalan salib dengan keempat belas perhentian yang kita kenal sekarang.

Seperti sekarang, pada abad-abad pertengahan kebanyakan orang tak mampu berlayar ke Tanah Suci. Tak jarang akses ke Palestina juga tak aman, bahkan dihalangi penguasa bukan kristiani. Karena itu pada abad kelima di Bologna, dan pada abad-abad kemudian juga di kota-kota lain di Eropa, para mantan peziarah membuat reproduksi tempat-tempat suci Yerusalem. Demikian para peziarah lokal dapat menjalani jalan sengsara Kristus dan memperoleh berkat, terutama pengampunan dosa (indulgensi) yang sama seperti yang ditetapkan Paus bagi para peziarah ke Yerusalem. Ini berarti, setiap jalan salib di luar Yerusalem merupakan ziarah mini.

Perkembangan pesat devosi jalan salib terjadi pada akhir abad pertengahan. Perang salib telah mengarahkan perhatian umat kristiani Eropa ke Tanah Suci yang ingin direbut oleh Paus dan raja kristiani Eropa. Saat itu juga devosi penderitaan Kristus berkembang subur, antara lain berkat permenungan Bernardus dari Clairvaux (+1153) dan spiritualitas Fransiskus Assisi (+1226). Pada 1342, Paus menugaskan Ordo Fransiskan yang sudah hadir di Palestina agar berupaya mendapatkan kembali tempat-tempat suci yang hilang, dan membangun kembali gereja-gereja yang telah hancur. Itulah awal Custodia Terra Santa sampai sekarang.

Para Saudara Dina ini melihat hal itu sebagai bagian misi mereka untuk mempromosikan devosi Jalan Salib. Di semua gereja dan biara mereka di Eropa, mereka mendirikan jalan-jalan salib yang serupa dengan via crucis di Yerusalem. Tetapi jumlah perhentian dan nama-nama masih berbeda-beda di mana-mana. Ada yang hanya tujuh, ada yang tiga puluh lebih. Ada yang mulai dari doa Yesus di Getsemani, ada yang membatasi diri kepada Jalan Salib yang sesungguhnya dari istana Pilatus sampai Golgota.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*