Artikel Terbaru

Buah Rohani Via Dolorosa

Atas: Para peziarah di Via Dolorosa. Bawah: Peziarah berhenti di sebuah perhentian Jalan Salib.
[NN/Dok.Pribadi]
Buah Rohani Via Dolorosa
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Menyusuri Jalan Salib di Via Dolorosa, tempat Yesus disesah, didera, dan memanggul salib menuju Bukit Tengkorak Golgota merupakan impian banyak umat. Banyak umat yang memiliki kesempatan berjalan salib di tempat ini mencecap buah-buah rohani. Jalan salib itu dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Buah-buah rohani itu mengalir dalam setiap kegiatan bersama sesama. Berikut beberapa komentar umat yang pernah mengikuti prosesi Jalan Salib di Via Dolorosa:

Agnes Puspitasari Sudarmo, Umat Paroki St Nikodemus Ciputat
Ini merupakan berkat yang spesial. Saya merasa sangat beruntung bisa menelusuri jejak di mana Tuhan Yesus memanggul kayu salib sampai wafat di kayu salib. Saat menyusuri Via Dolorosa, saya membayangkan Tuhan Yesus yang pada masa itu memanggul salib dengan kekuatan sebagai manusia serta penuh dengan luka-luka di sekujur tubuh akibat didera dan disesah oleh tentara. Sementara saya memanggul kayu salib yang tidak begitu besar dengan tubuh yang tidak ada luka-luka yang menyobek kulit, tapi saya sudah merasa kewalahan.

Olivia Savitri Subagyo, Umat Paroki St Nikodemus Ciputat
Pada usia 18 tahun, aku merasa bersyukur bisa mengikuti napak tilas Jalan Salib di Via Dolorosa, di mana Tuhan Yesus didera hingga wafat di kayu salib, aku merasakan suasana dan aura tempat penderitaan dan perjuangan Tuhan Yesus demi menebus dosa-dosa kita. Setelah mengikuti Jalan Salib di Via Dolorosa, aku merasakan perubahan dalam diriku. Aku mendapat pencerahan. Sekarang aku juga lebih tenang, lebih fokus setiap kali menemui masalah. Selain itu, aku juga lebih bisa menentukan pilihan yang aku butuhkan dalam kehidupan masa remaja yang sedang aku nikmati sekarang ini.

Suwarlan Situmorang, Umat Paroki Salib Suci Cilincing
Saya sungguh mengucap syukur dan terima kasih kepada Tuhan, karena mimpi saya yang sudah bertahun-tahun akhirnya bisa terwujud. Perjalanan ke Via Dolorosa, bagi saya adalah berkat dan rahmat yang Tuhan berikan kepada saya. Sebelumnya, saya pikir Via Dolorosa adalah tempat Jalan Salib seperti pada umumnya di tempat-tempat ziarah atau di dalam gereja. Ternyata di sana, saya harus berjalan salib di tengah hiruk pikuk orang yang berlalu lalang. Tapi bagi saya, ini merupakan tantangan iman. Saya harus menahan marah dan merasa tidak terganggu dengan suasana di sekitar. Hal yang paling berkesan bagi saya saat di Via Dolorosa, ketika saya bisa sungkem di makam Yesus setelah diturunkan dari salib. Saya merasa hati ini sangat tenang. Saya ingin sekali berlama-lama di dekat makam Yesus. Saya merasakan segala dosa saya terampuni. Mungkin inilah saat saya merasakan kesempurnaan hidup.

Lucia M. Dyah Susanti, Umat Paroki St Yakobus Kelapa Gading
Saat awal hendak berjalan salib di Via Dolorosa, saya merasa ragu, karena usia saya sudah memasuki angka 69 tahun. Dalam hati saya bertanya, apakah saya mampu mengikuti Jalan Salib di Via Dolorosa? Tetapi keraguan itu sirna setelah saya memulai Jalan Salib dan sampai di pemberhentian pertama. Saya merasakan ada yang menguatkan iman saya agar terus menyelesaikan Jalan Salib ini. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus yang sangat baik kepada saya. Saat berada di Via Dolorosa, saya membayangkan Tuhan Yesus hadir, dipaksa memanggul salib yang berat dengan tubuh penuh luka-luka. Luka-luka itu adalah dosa-dosa manusia, termasuk saya. Ia didera bukan karena kesalahan-Nya. Ia menderita karena dosa-dosa manusia. Ia rela berjalan dalam kesengsaraan demi menebus dosa-dosa umat manusia.

Christophorus Marimin

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 27 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*