Artikel Terbaru

Hari Raya Paskah

Hari Raya Paskah
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comSaya sering membandingkan masa Prapaskah kita dengan masa puasa saudara-saudari kita, umat Islam, termasuk membandingkan perayaan Paskah kita dengan perayaan Idul Fitri. Apakah boleh kita melihat Hari Raya Paskah juga sebagai “Hari Kemenangan” atas kuasa dosa dalam diri kita?

Paulus Cahyo Bawono, Magelang

Pertama, memang banyak kemiripan praktik keagamaan antara Islam dan Katolik. Misal berkaitan dengan kelahiran (Maulid Nabi dan Natal), puasa (Ramadhan dan masa Prapaskah), akhir puasa (Idul Fitri dan Paskah), kepindahan ke surga (Isra Miraj dan Kenaikan Yesus). Kebetulan pula pada tahun lalu, perayaan Maulid Nabi (24 Desember) berurutan dengan Hari Raya Natal (25 Desember), dan tahun 2016 ini, kenaikan Yesus Kristus (5 Mei) berurutan dengan Isra Miraj (6 Mei). Kedekatan waktu perayaan ini mendorong kita membandingkan makna masing-masing perayaan.

Kedua, Hari Raya Idul Fitri seringkali dirayakan sebagai Hari Kemenangan atau sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas kemenangan besar yang diperoleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh melawan nafsu-nafsu duniawi. Kata Fitri (Fitrah) diartikan sebagai suci, bersih dari segala dosa, kesalahan dan keburukan. Maka Idul Fitri dimaknai sebagai “kembali menjadi suci”, karena dosa-dosa telah dihapuskan melalui ibadah puasa. Idul Fitri berarti kembali kepada hati nurani yang cenderung kepada kebaikan dan kebenaran sesuai dengan Fitrah. Maka perayaan Idul Fitri dimaknai sebagai Hari Raya Kemenangan.

Ketiga, pengertian umat Islam tentang puasa itu sangat dekat dengan pengertian Katolik tentang puasa dan pantang selama masa Prapaskah. Lama masa puasa berbeda, yaitu Ramadhan selama 29-30 hari, sedangkan puasa kita selama 40 hari. Puasa kita mengikuti teladan puasa Yesus selama 40 hari sesudah pembaptisan-Nya (KGK 538-540). Yesus menjadi teladan keteguhan iman melawan nafsu-nafsu dosa dan keterbukaan kepada kuasa Allah. Masa ini adalah kesempatan untuk menguasai hawa nafsu dan memperoleh kebebasan hati (KGK 2043), agar kemuliaan Tuhan semakin bersinar. Puasa dan pantang kita merupakan ungkapan pertobatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama. Dalam praktik puasa dan pantang, Gereja sangat menekankan dimensi kemasyarakatan sebagai perwujudan kesejatian pertobatan, misal dengan Aksi Puasa Pembangunan.

Keempat, Hari Raya Paskah bisa juga disebut Hari Kemenangan, seperti Idul Fitri, tetapi, yang kita rayakan bukanlah kemenangan kita atas nafsu-nafsu duniawi, melainkan kemenangan Kristus atas kuasa dosa dengan kematian sebagai tenggat. Kemenangan manusia atas nafsu duniawi bersifat hanya parsial dan sementara, sedangkan kemenangan Kristus bersifat definitif, total, dan pasti. Kemenangan kita itu bagaikan kemenangan dalam pertempuran, tetapi kemenangan Kristus adalah kemenangan dalam peperangan. Sesungguhnya kuasa kemenangan Kristus itulah yang bekerja dalam diri kita dan memampukan kita menggapai kemenangan selama masa puasa.

Perayaan Paskah adalah perayaan Kebangkitan Kristus yang mengalahkan kematian, sekali untuk selama-lamanya (Rom 6:9-10). Itulah perayaan kemenangan Sang Cahaya Dunia melawan kegelapan dosa (Kol 2:15). Ketika merayakan kebangkitan Kristus, kita berpartisipasi dalam kemenangan kuasa kebangkitan Kristus dengan membatinkan kuasa itu dalam diri kita. Kemenangan ini bukan hanya milik Kristus. Karena Kristus sudah disatukan dengan seluruh umat manusia, maka kemenangan itu juga adalah kemenangan semua orang yang hidup dalam persekutuan dengan Kristus. Kristus adalah yang sulung (1 Kor 15:22-26). Roh Kristus yang hidup dalam diri kita menjadi sumber kekuatan yang mengubah kita dari kematian ke kehidupan, dari daging kepada roh (1 Kor 15:45). Kristus yang telah bangkit itu adalah sebab dan dasar utama kebangkitan kita yang akan datang (KGK 655).

Petrus Maria Handoko CM

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 27 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*