Artikel Terbaru

Kesal, Ayah Kentut Sembarangan

Kesal, Ayah Kentut Sembarangan
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comDear Pengasuh, Saya Maria dari Semarang. Saya bersyukur punya keluarga yang lengkap. Kami masih melakukan kewajiban sebagai satu keluarga. Misalnya, makan bersama, nonton bersama, dsb. Tapi salah satu kebiasaan ayah yang sering menjengkelkan adalah kentut sembarangan. Suatu saat, ketika teman-teman kampus saya ke rumah, ayah mengajak mereka makan bersama. Tiba-tiba ayah kentut dan baunya menyengat. Sudah begitu, ayah biasa-biasa saja seakan-akan tak terjadi apa-apa. Teman-teman malah saling berpandangan sambil menahan hidung. Saya malu kepada teman-teman. Bagaimana saya memberi penjelasan kepada ayah agar bisa menjaga etika saat makan bersama? Alasan apa yang perlu saya berikan untuk meyakinkan teman-teman? Terima kasih.

Maria, Semarang

Salam jumpa, Mbak Maria. Pertama-tama saya ucapkan profisiat atas kerukunan dan kebersamaan dalam keluarga Anda. Berbahagialah karena selalu diberi kesempatan berkomunikasi dan berkegiatan bersama, yang kemungkinan sudah jarang dilakukan keluarga-keluarga lain. Meskipun hanya makan bersama, rasanya hal ini juga sudah semakin langka dan jarang dilakukan karena berbagai kesibukan masing-masing anggota keluarga. Syukurilah dan pertahankan kebiasaan kebersamaan beraktivitas. Pasti banyak hal positif dapat dipetik.

Kebersamaan dalam keluarga, selain dapat mempererat hubungan antaranggota keluarga, juga dapat mengkomunikasikan kegiatan masing-masing. Jika ada permasalahan, dapat segera diatasi. Berbagai masukan semakin menjaga kerukunan, kenyamanan, dan ikatan psikologis, sehingga memperkuat keluarga.

Berkaitan dengan kebiasaan ayah Anda, mengenai kentut sembarangan tanpa mengindahkan situasi lingkungan, bersama siapa saja, pasti menjadi keprihatinan bagi Anda. Memang tak mudah memahami situasi ini, meskipun oleh anggota keluarga sendiri. Perasaan malu, dianggap tidak sopan, tak tahu diri, semaunya sendiri, tak peduli, menjijikkan, dll adalah reaksi yang muncul. Tapi reaksi awal yang muncul pasti jengkel, marah atau meninggalkan tempat dengan menggerutu. Apalagi jika kentut sembarangan dilakukan saat situasi makan bersama, tentu lebih membuat reaksi yang kurang menyenangkan.

Lalu, apa yang harus dilakukan Mbak Maria dalam situasi itu? Pokok permasalahan adalah di ayah, maka pertama-tama perlu melakukan pendekatan pada ayah. Dalam situasi yang menyenangkan dan bercanda bersama, katakan terus terang mengenai kebiasaan ayah yang sering kentut sembarangan. Jangan seperti menggurui, tapi seolah-olah menjelaskan tentang reaksi teman-teman saat ayah kentut sembarangan. Karena adanya kebiasaan berkegiatan bersama dalam keluarga, pasti ayah tak mudah marah atau tersinggung dengan apa yang Anda ungkapkan secara terus terang.

Hal berikutnya menjaga hubungan baik dengan teman-teman Anda. Pasti teman-teman yang biasa berkumpul bersama, pergi bersama, merupakan teman-teman dekat atau sahabat. Jangan sungkan berbicara terus terang mengenai kebiasaan kentut ayah, juga dalam situasi yang tak terlalu serius, mungkin saat bercanda atau ngobrol bersama. Awali dengan permintaan maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan dengan kebiasaan ayah. Setelah itu, jelaskan tentang kebiasaan ayah dan niat Anda untuk sedikit demi sedikit memberitahunya agar dapat mengubah kebiasaan kurang baik itu. Lalu, ungkapkan bahwa Anda tetap berharap teman-teman bermain ke rumah. Semoga dengan demikian, rasa malu Anda kepada teman-teman dapat terkurangi dan sebisa mungkin hilang.

Kuncinya, jangan malu berterus-terang mengenai hal-hal yang kurang baik dan tetaplah berusaha untuk dapat mengubahnya menjadi lebih baik dengan siapapun. Hanya saja, cara kita berbeda-beda dalam menyikapi dan berterus-terang, dan bagaimana menyikapi serta berterus-terang dengan ayah atau teman-teman Anda. Demikian sedikit masukan yang mungkin dapat membantu Anda dalam memecahkan masalah yang Mbak Maria hadapi. Tetaplah pertahankan kebiasaan kebersamaan dalam keluarga Anda. Tuhan memberkati!

Emiliana Primastuti

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 27 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*