Artikel Terbaru

Perintah Kamis Putih

Paus Benediktus XVI (R) membasuh kaki para imam selama massa malam Perjamuan Tuhan pada tanggal 20 April 2011 di St Giovanni di Basilika Laterano, Roma. Paus Benediktus XVI membasuh kaki 12 orang, mengikuti teladan Yesus membasuh kaki 12 rasul selama Perjamuan Tuhan.
AFP PHOTO / POOL / ALESSANDRO BIANCHI (Photo credit should read ALESSANDRO BIANCHI/AFP/Getty Images)
Perintah Kamis Putih
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Perayaan Liturgi Kamis Putih sering diidentikkan dengan ritus pembasuhan kaki. Atau, sekurang-kurangnya itulah yang kerapkali menjadi fokus perhatian umat. Liturgi Kamis Putih jauh lebih kaya daripada sekadar ritus pembasuhan kaki. Tulisan ini berusaha menjelaskan makna ritus tersebut, dan menempatkannya pada posisi yang proporsional dalam seluruh Liturgi Kamis Putih.

Yesus, Sang Guru membasuh kaki para murid, pada malam menjelang wafat-Nya. Pembasuhan kaki merupakan hal lumrah dalam tradisi Yahudi (Kej 18:4), karena pada waktu itu kondisi jalan di Tanah Suci umumnya berpasir dan berdebu. Setiap keluarga Yahudi mempunyai tempayan pembasuhan kaki (Yoh 2:6), yang ditempatkan di dekat pintu masuk rumah mereka. Biasanya, para tamu membasuh kaki terlebih dulu. Pembasuhan kaki hanya lazim dilakukan sebelum masuk rumah, bukan pada waktu perjamuan. “Tamu agung” yang sangat dihormati akan dibasuh kakinya oleh seorang budak non-Yahudi sebagai “tindakan pelayanan”. Yesus memberi makna lebih tinggi tentang pembasuhan kaki yang dilakukan oleh perempuan yang terkenal karena dosanya, yakni sebagai perbuatan kasih yang mendatangkan pengampunan dosa (Luk 7:44.47).

Seorang murid Yahudi kadang-kadang membasuh kaki gurunya, tetapi seorang guru tidak biasa membasuh kaki murid-muridnya. Yesus, Sang Guru, melanggar kebiasaan yang sudah berlaku. Dia membasuh kaki para murid-Nya. Hal ini dipandang sebagai tindakan sangat “hina” yang tidak layak dilakukan oleh seorang guru, apalagi Guru dan Tuhan (Yoh 13:13). Apa sebenarnya makna dari tindakan unik dan tak lazim yang dilakukan Yesus itu?

Rupanya, Yesus sengaja memilih tindakan tersebut untuk memberikan sinyal pada kematian-Nya yang hina dan tragis di kayu salib. Injil Yohanes kaya akan simbol dan tanda. Dengan membasuh kaki para murid-Nya, Yesus ingin memberikan tanda bahwa Dia akan mati secara sangat hina, seperti seorang budak. Namun mengertikah para murid pada sinyal yang diberikan Yesus ini?

Petrus, sebagai wakil dari para murid, menolak keras tindakan hina tersebut. Baginya, hal itu merupakan tindakan konyol yang harus segera dicegah. Dari reaksi Petrus ini, Sang Guru mengetahui, bahwa para murid belum mengerti maksud Yesus. Memang, tanda kematian baru dipahami setelah orangnya mati. Mungkin, kita akan lebih mudah menangkap tanda yang dibuat Yesus tersebut, jika Dia menjelaskan secara langsung, “Ketahuilah murid-Ku, bahwa besok Aku akan mati secara hina dan tragis di kayu salib!” Namun, akhirnya Yesus hanya mengatakan, “Kelak, akan engkau pahami” (Yoh 13:7). Yesus telah mengatakan hal itu kepada dua murid yang meminta jabatan publik, Yakobus dan Yohanes, “Piala-Ku memang akan kamu minum” (Mrk 10: 38-39). Bahkan, Petrus akan mati secara hina dan tragis, disalibkan seperti Yesus, tetapi dengan kepala terbalik. Mereka sungguh mendapat “bagian dalam tragedi Sang Guru”, berbuat seperti yang diperbuat Yesus (Yoh 13:15).

Gereja menempatkan ritus Pembasuhan Kaki dalam Liturgi Kamis Putih, saat Yesus mendirikan Sakramen Ekaristi, Sakramen Imamat, dan perintah baru, yakni kasih. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Inilah “pesan terakhir seorang yang akan meninggal dunia”. Inilah “novissima verba”, yaitu suatu perintah baru. Sakramen Ekaristi adalah perayaan pemberian nyawa Yesus sebagai korban kasih demi pegampunan dosa. Ekaristi adalah Perjamuan Paskah Kristus, Anak Domba Allah; yang menggantikan perjamuan Paskah Yahudi. Dengan Sakramen Imamat, para Imam dipanggil untuk menghadirkan kembali korban Paskah Kristus bagi keselamatan umat Allah.

Jadi, pada malam menjelang kematian-Nya, Yesus, Sang Guru, memberikan tiga sinyal yang saling berkaitan dan tak mungkin dipisahkan, yakni: Membasuh kaki para murid-Nya, mengadakan Perjamuan Paskah, dan memberikan perintah kasih. Dengan pembasuhan kaki, Yesus memberikan sinyal dalam rupa tindakan. Dengan membarui korban Paskah Yahudi, Yesus memberikan sinyal dalam rupa ritus. Dengan perintah kasih, Yesus memberikan signal dalam rupa kata-kata. Singkatnya, Yesus memberikan “pesan terakhir”dalam tiga bentuk.

Adrianus Pristiono OCarm

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 27 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*