Artikel Terbaru

Pengalihan Isu

Pengalihan Isu
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Krisis merupakan istilah yang seringkali terdengar dalam ruang publik. Krisis dikaitkan dengan suasana yang mencekam dan mengkhawatirkan. Krisis dapat muncul secara tiba-tiba, seperti ketika terjadi perselisihan antara menteri dalam kabinet pemerintahan Joko Widodo saat ini. Muncul nama seperti Sudirman Said, Rizal Ramli, Pramono Anung, Marwan Jafar sebagai representasi menteri dan T.B. Hasanuddin dari Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR RI), serta beragam politikus selebritis yang memberikan interpretasi aneka rupa.

Kegaduhan menarik perhatian masyarakat karena melibatkan organisasi publik yang besar seperti kementerian dan DPR. Lembaga lembaga ini menjadi wacana yang dipercakapkan melalui cuitan dalam ruang media sosial. Ketanggapan Presiden merespon krisis memunculkan dua kelompok publik. Pertama yang sepakat bahwa Presiden perlu mengambil tindakan tegas mengatasi hal ini, jika perlu dengan reshuffle kabinet. Yang kedua mencurigai bahwa kasus ini merupakan pengalihan isu politik dan Presiden diuntungkan oleh situasi kegaduhan ini untuk mendapatkan dukungan dan citra yang positif dari publik.

Dalam kajian public relations, fenomena ini menggambarkan situasi krisis yang dihadapi pemerintahan Jokowi. Krisis perlu disikapi serius karena kehadiran internet menghadirkan ancaman yang serius pula. Mekanisme interactivity dalam internet menjadikan individu sebagai konsumen yang mengonsumsi berbagai informasi.

Interactivity pula yang membuat semua individu sekaligus menjadi produsen yang memproduksi pernyataan melalui kata dan gambar. Ketika fenomena produsen dan konsumen (prosumen) kian menggejala, setiap organisasi berhadapan dengan mekanisme penyebaran pesan dengan menggunakan teknologi atau yang sering disebut viral, di mana satu komentar akan menyebar ke segala arah, melalui menu share, retweet atau reply, dan yang lain. Mekanisme interactivity mengakibatkan komentar buruk tentang pengalaman seseorang dalam mengonsumsi layanan maupun produk suatu organisasi yang disebarluaskan secara viral.

Secara real-time, komentar itu menyebar dan menjadikan organisasi tertentu sebagai sasaran umpatan dalam jumlah yang besar. Kecepatan merespon menjadi kata kunci dalam menghadapi krisis, terutama dalam dunia yang sekarang ini ditandai dengan fenomena prosumen dan viral. Sekalipun krisis merupakan ancaman bagi pemerintahan Jokowi, akan tetapi krisis juga dapat dilihat sebagai peluang mengubah organisasi menjadi lebih baik. Krisis bisa menjadi peluang memperbaharui organisasi, tetapi perlu mengenali bahwa krisis tidak tiba-tiba terjadi, karena sudah diawali dengan gejala yang kurang dicermati dan disikapi secara serius oleh organisasi.

Seperti penyakit, krisis diawali dengan tahap prodromal yang dicirikan dengan kemunculan gejala awal yang jika tidak ditangani sejak dini akan sampai kepada tahap akut, bahkan kronis. Ketika krisis sudah terjadi, biaya yang dikeluarkan mengatasi krisis, baik finansial, sosial, dan psikologi sangat besar.

Menangani krisis butuh kepemimpinan yang bisa membangun sikap kerjasama seluruh pihak pemangku kepentingan. DPR tidak dilihat sebagai ancaman kementerian terkait, begitupun antara satu kementerian dengan kementerian yang lain. Diperlukan pemimpin yang mampu menghargai perbedaan pandangan, mencari titik temu dan jalan keluar untuk menangani krisis. Dalam dinamika politik, permainan kepentingan menjadi lebih utama daripada upaya mencapai kompromi antara pihak yang bertikai. Pertarungan kekuatan, atau menurut Pierre Bourdieu, adalah kapital sosial dan budaya serta simbolik, antara para pihak menjadi lebih dominan dalam situasi krisis.

Imbauan Presiden kepada para menteri agar menghentikan kegaduhan tidaklah cukup. Yang disayangkan adalah kegaduhan ini mengakibatkan masyarakat semakin jauh dari realitas sebenarnya terkait Blok Masela atau Freeport. Sehingga ketika banyak orang mencurigai bahwa kegaduhan ini merupakan bentuk pengalihan isu, barangkali sangat bisa dipercaya kebenarannya.

Isu-isu yang menimbulkan kegaduhan juga kerap melanda Gereja dan terkadang menjadi tantangan dalam berpastoral. Maka, sebaiknya bijak dalam mengelola segala isu yang berkembang, apalagi yang muncul di media-media sosial.

Puspitasari

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 13 Tanggal 27 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*