Artikel Terbaru

Di Garda Depan

Di Garda Depan
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Empat Suster Misionaris Cinta Kasih (MC) bersama 12 orang lain, dibunuh di rumah lansia Aden, Yaman. Kekerasan dan konflik bersenjata di Yaman telah menganiaya Gereja–dan juga martabat manusia–di dunia Arab.

Demo besar umat Islam terjadi di Kelurahan Harapan Baru, Bekasi Utara, Senin, 10/3. Mereka menolak pendirian Gereja Paroki St Klara. Padahal prosedur legal pendirian gereja sudah tuntas diikuti (bahkan butuh perjuangan belasan tahun). Hal serupa pernah terjadi di Gereja Paroki St Yohanes Maria Vianney Cilangkap.

Perjuangan mencari izin untuk beribadah yang hak kebebasannya dijamin konstitusi seolah dimasygulkan oleh segelintir orang yang mengatasnamakan agama. Ajaib, ada elemen bangsa ini yang masih mempersoalkan kebenaran hukum yang berlaku. Seolah negara absen dalam kasus-kasus seperti ini. Negara dapat dikatakan membiarkan pelanggaran amanat konstitusi.

Duka umat manusia itu juga menjadi duka Gereja (seperti halnya sukacitanya). Gambaran ketidakadilan dan kekerasan mengundang solidaritas Gereja. Sebagai murid Yesus, Gereja dipanggil mengungkapkan solidaritasnya dan berjuang bersama dengan senjata kasih.

Konsekuensinya mungkin akan menggetarkan, tapi jangan sampai membuat gentar. Gereja memiliki pejuang-pejuang kemanusiaan ulung di garda depan. Misal, Pastor John Jonga, imam Diosesan Jayapura yang dipanggil Polisi sebagai saksi atas kehadirannya dalam pemberkatan Kantor Dewan Adat Papua di Wamena, dan peresmian kantor pergerakan Papua Merdeka (United Liberation Movement for West Papua, UMLWP).

Melihat potret tragedi kemanusiaan itu, Gereja–kita semua–dapat memaknai Minggu Palma dengan berani menjadi martir di zaman ini. Bukan dengan menumpahkan darah seperti para pengikut Bunda Teresa di Yaman, melainkan seperti Bunda Teresa, bersolider kepada yang paling kecil. Berjuang di garda depan, berpihak untuk dan bersama kaum papa. Selamat memasuki Pekan Suci.

Redaksi

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 12 Tanggal 20 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*