Artikel Terbaru

Minggu Palma: Tangan dan Mulut Harus Bersorak

Perayaan Minggu Palma di Filipina.
Minggu Palma: Tangan dan Mulut Harus Bersorak
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comMinggu Palma, kesempatan merefleksikan diri, “Apakah tangan dan mulut serempak memuji Tuhan?” Sebab Yesus yang masuk Yerusalem membawa damai bagi semua orang.

Minggu Palma dirayakan dan dihayati secara berbeda di berbagai negara. Di Filipina, Minggu Palma (Tagalog: Mahal na Araw) dihayati sebagai cara berkomunikasi Tuhan dengan manusia. Komunikasi yang terjadi bukan semata-mata verbal, melainkan menyentuh langsung secara personal. Artinya, Yesus seakan memberikan umpan balik Bagi diri-Nya sendiri. Dia sungguh sadar tujuan perjalanan-Nya ke Yerusalem.

Yesus tahu, perjalanan ke Yerusalem adalah jalan duka, akhir pelayanan-Nya di dunia. Namun, Dia malah meneruskan perjalanan duka itu. Sebuah cara menyapa yang tak masuk akal. Itulah cara inkarnasi Bapa dalam diri Yesus kepada manusia. Yesus mampu menilai diri dan kemampuan-Nya sebagai Anak Manusia, terlepas dari sifat keilahian-Nya. Tapi Dia membuat keputusan mulia, menuju Yerusalem untuk mematuhi kehendak Bapa.

Ironi Minggu Palma
Di Filipina, Minggu Palma bukan saja dirayakan di Gereja Katolik, tapi di banyak denominasi Gereja lain, seperti Iglesia ni Cristo, Gereja Independen Filipina, Gereja Advent Hari Ketujuh, Gereja Yesus Kristus, dan masih banyak lagi. Satu hal yang Menarik dalam perayaan ini adalah tradisi “palaspas” (daun-daun palma) dari pucuk kelapa atau Pohon palma.

Mengingat pohon palma cukup sulit diperoleh di Filipina, maka pucuk kelapa muda dirasa paling tepat digunakan. Kadang Minggu Palma dirasakan oleh para Pastor Paroki di Filipina sebagai ironi semata. Kemunafikan Manusia masih tergambar dalam riuk-piuknya teriakan, “Hosanna!” Hari ini, mereka mengelu-elukan Yesus, besok mereka berteriak, “Salibkan Dia!”

Maka Minggu Palma bagi kebanyakan umat tak lain hanyalah keramaian massa murahan, seperti pawai kemenangan. Jangan sampai penghayatan agamis yang sarat dengan makna ini justru tidak berdaya gugah dan menyentuh hati karena salah kaprah. Situasi ini diperparah dengan persiapan yang kurang dari umat atau pelayan pastoral. Khotbah dan pesan Minggu Palma tidak sampai pada umat. Mungkin karena para imam sendiri tidak memahami pesan itu atau cara penyampaian yang keliru.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*