Artikel Terbaru

Makan dengan Tangan Kiri

U.S. President Barack Obama bites into a bratwurst during a visit to Usinger's Fine Sausage in Milwaukee, Wisconsin September 22, 2012. REUTERS/Kevin Lamarque (UNITED STATES - Tags: POLITICS ELECTIONS TPX IMAGES OF THE DAY USA PRESIDENTIAL ELECTION) - RTR38AHT
Makan dengan Tangan Kiri
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comDear Romo Erwin, akhir-akhir ini saya sedikit kesal karena perlakuan ayah. Betapa tidak, setiap kali makan, ayah selalu marah karena saya makan dengan menggunakan tangan kiri. Kata ayah, tangan kiri itu tangan setan tak pantas mengotori makanan yang adalah pemberian Tuhan. Kalau kita makan dengan tangan kiri, itu menutup rahmat dari Tuhan. Terus saya harus bagaimana?Selama ini, tangan kiri saya yang lebih aktif ketimbang tangan kanan saya, misal menulis, makan, memegang sesuatu, dll. Apakah tangan kiri itu tangan setan? Kalau tangan setan, mengapa Tuhan memberikan tangan kiri pada saya? Terima kasih, Romo.

Joko, Papua

Hallo Saudara Joko, terima kasih atas pertanyaan Anda. Rupanya Anda mengalami situasi yang umum dialami oleh banyak keluarga, soal etika pergaulan. Menggunakan tangan kiri di Indonesia kadang masih dipermasalahkan, karena orang menganggap tangan kiri adalah tangan yang tidak sopan dipakai dalam pergaulan. Ini barangkali berkaitan dengan persoalan etiket yang mengatakan “tidak sopan menggunakan tangan kiri”.

Ketidaksopanan ini menurut saya tidak sama di setiap tempat. Di banyak kota besar pada umumnya, hal ini sudah diterima dan dimengerti. Kita tidak lagi menganggap bahwa menggunakan tangan kiri itu buruk, karena kita mengetahui ada orang yang left-handed. Artinya, memang sejak lahir, ia menggunakan tangan kiri sebagaimana kebanyakan orang menggunakan tangan kanan.

Perhatikan, dalam Bahasa Inggris pun barangkali boleh kita cermati. Kata “kanan” disebut “right” (benar, baik), sedangkan kata “kiri” disebut “left” (ditinggalkan). Secara umum, kanan memang dipakai untuk melakukan sesuatu, dan sebaliknya kiri dipakai untuk membantu dan melengkapi. Tetapi hal ini sekali lagi tidak pernah berkaitan dengan iman.

Yesus dalam Matius 6:3 mengatakan, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” Kalimat itu mau mengatakan bahwa kita perlu memberi tanpa memberitakan atau menyiarkan pemberian kita, supaya Allah sendiri yang mengetahui dan memberi berkat dan supaya kita tidak menjadi sombong dan ingin dipuji orang karena pemberian kita. Tidak ada pernyataan tidak boleh menggunakan tangan kiri, bukan?

Barangkali ayah Anda ingin agar Anda menggunakan tangan kanan supaya “terlihat lebih sopan” di hadapan orang lain. Dengan alasan religius, alasan iman, suatu ajaran akan “lebih dihargai” dan diikuti.

Saya tidak ingin menyalahkan ayah Anda atau menyalahkan Anda dalam hal ini. Anggaplah ayah Anda sebagai orang Indonesia yang menjunjung tradisi. Jika Anda merasa keberatan atau memang tidak mungkin mengubahnya, sampaikan dengan komunikasi yang baik. Semoga ayah Anda mengerti dan menerima kenyataan bahwa anaknya memakai tangan kiri untuk aktivitas sehari-hari.

Saya pribadi menganggap bahwa tangan kiri tidak ada kaitannya dengan tangan setan, sebab semua orang mempunyai tangan kiri untuk kelengkapan, kesempurnaan, dan kepentingan semua manusia. Tak ada satupun alasan yang dapat mengatakan adanya “tangan setan”. Tetapi baiklah kita melihatnya dengan kacamata lain, yaitu niat baik untuk mendidik anak menjadi sopan menurut nilai yang dianut Ayah.

Jika Anda diberi masukan seperti di atas, berkaitan dengan iman, “tangan setan”, atau hal-hal yang sulit dipercaya, anggaplah itu sebagai suatu cara yang dipakai untuk meyakinkan Anda. Pada saatnya, sebagai orangtua, semua harus insyaf bahwa suatu pengajaran jika tanpa dasar dan tidak disampaikan dengan terus terang akan melahirkan pertanyaan dan justru bertentangan karena tidak terbukti benar.

Sebenarnya orangtua dapat menyampaikan alasannya seperti ini, “Memakai tangan kanan itu baik dan lebih sopan digunakan di Indonesia”. Barangkali cara ini akan lebih mudah diterima dan tidak menimbulkan pertanyaan atau keresahan. Semoga ini membantu Anda memahami situasi Anda saat ini.

Alexander Erwin Santoso MSF

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 12 Tanggal 20 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*