Artikel Terbaru

Johanes Henri Sriyono: Totalitas Pelayanan Sang Pemijat

Johanes Henri Sriyono
[HIDUP/Yanuari Marwanto]
Johanes Henri Sriyono: Totalitas Pelayanan Sang Pemijat
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comLewat teknik pijat perabaan, dia cepat mengenali sakit di tubuh pasien, tanpa keterangan apapun dari pasien.“Tuhan yang menyembuhkan, saya hanya alat-Nya.”

Rambut putih hampir menutup seluruh tempurung kepala Johanes Henri Sriyono. Kerutan di wajah serta pipinya yang caung, menunjukkan telah lama dia menjalani ziarah kehidupan. Sriyono–demikian panggilannya–akan berusia 76 tahun Juni mendatang. Kendati usianya telah senja, tangannya bisa membuat orang menggeliat bak cacing kepanasan.

“Pijatan saya sakit, kamu sanggup?” tanya Sriyono kepada pasien. Pertanyaan itu selalu dia lontarkan kepada tiap orang yang datang kepadanya. Dia tak akan memijat jika pasien menolak. Tapi bila berani menanggung sakit, pria asal Muntilan, Jawa Tengah itu akan beraksi.

Tak usah memberitahu kepadanya bagian tubuh yang sakit. Sriyono bisa menyebut bagian tubuh yang bermasalah, saat meraba punggung kaki pasien. Pasien bisa meronta karena kesakitan. Padahal dia hanya menggosok lembut pada punggung kaki orang itu.

Seperti pepatah Belanda yang berbunyi, “zachte heelmeesters maken stinkende wonden” (cara pengobatan yang lemah lembut makin membuat borok semakin menyengat baunya). Rasa sakit, terang Sriyono, disebabkan karena masalah di bagian tubuh pasien, bukan karena pijatan.

Sriyono tak hanya mengobati gangguan syaraf. Banyak pasien dengan berbagai keluhan, antara lain stroke dan kanker datang kepadanya. “Tuhan yang menyembuhkan, saya hanya sebagai alat-Nya,” katanya.

Tak Berplang
Sriyono tinggal di Larangan, Ciledug, Tangerang. Rumah umat Paroki St Matius Penginjil Bintaro itu tersembunyi di tengah kampung. Begitu tiba di depan gapura Jalan Inpres 15, orang harus melewati gang yang hanya cukup dilalui dua motor.

Jika membawa mobil, orang bisa memarkirnya di tanah lapang belakang mini market yang berhadapan dengan Gapura Jalan Inpres 15. Dari situ rumah Sriyono berjarak sekitar 200 meter. Pertama kali datang, mungkin kesulitan menemukan rumah bapak lima anak itu.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*