Artikel Terbaru

Santo Hubertus: Pemburu Jiwa-jiwa bagi Kristus

[clubegloria.com]
Santo Hubertus: Pemburu Jiwa-jiwa bagi Kristus
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Saat berburu, Hubertus ditegur seekor kijang jantan yang membukakan jalan kekudusan baginya. Sejak saat itu, ia berburu jiwa-jiwa bagi Kristus. Semangat pemburunya menjadi inspirasi dan keteladanan bagi Uskup Ruteng.

Hubertus dikenal sebagai pelindung bagi para pemburu. Konon, ia lahir di Toulouse, Perancis, pada 656, sebagai sulung dari pasangan Bertrandus dan Hugberna. Orang tuanya adalah bangsawan Belgia, yang mendidiknya secara Kristiani sejak kecil.

Sekitar usia 26 tahun, ia menikahi Floribanne, putri keluarga bangsawan Leuven, Belgia. Namun, malang tak bisa ditolak. Floribanne meninggal saat persalinan putra mereka, Floribertus. Kematian istrinya merupakan pukulan berat bagi Hubertus. Ia pun mulai mengabaikan hidup rohaninya. Kegemarannya berburu kijang di hutan dimanfaatkannya sebagai pelarian dari luka hatinya ditinggal Floribanne. Tak pernah ia melewatkan waktu berburu, meskipun kawan-kawannya mengajaknya ke gereja pada hari Minggu. Hubertus selalu memilih menyandang panah dan busur untuk pergi berburu, ditemani anjing-anjingnya.

Pengalaman ajaib
Tatkala Gereja merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus pada hari Jumat Agung, Hubertus justru merayakan kisah perburuannya di hutan. Ia sibuk menyiapkan anjing-anjingnya, lalu pergi ke hutan untuk berburu. Ia sama sekali tak peduli dengan hal-hal yang berbau rohani. Namun, hari itu naas baginya. Tak seekor kijang pun terekam dalam penglihatannya.

Ketika Hubertus menyesali kesialan hari itu, tiba-tiba seekor kijang jantan besar muncul di antara semak-semak. Tubuhnya kekar. Tanduknya pun besar, menghiasi kepalanya seperti mahkota. Dengan gesit, Hubertus segera memburu mangsanya. Setelah dikejar tanpa ampun, kijang itu pun letih. Sekonyong-konyong si kijang berdiri menantangnya. Sejurus Hubertus pun terpaku, sambil menatap hewan itu dengan gentar. Ia takut karena pada tanduk kijang itu tampak sebuah salib. Benda kudus itu mengeluarkan sinar yang menyilaukan. Tanpa diduga, si kijang bersuara: “Hubertus, mengapa engkau mengejar Aku? Apakah kamu tidak merayakan Jumat Agung? Sampai kapan engkau akan hidup seperti ini?” Tubuh Hubertus gemetar. Ketakutan menyelimuti hatinya. “Tuhanku, apa saja yang Kaukehendaki akan kuturuti mulai saat ini,” jawab Hubertus terbata-bata. Inilah peristiwa titik balik dalam perjalanan rohani Hubertus.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*