Artikel Terbaru

Komuni Sebelum Pengakuan Dosa

[youngandcatholic.net]
Komuni Sebelum Pengakuan Dosa
5 (100%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.comWaktu masih kecil sekitar tahun 60-an, bapak dan kakek melarang, ”Jangan menyambut Tubuh Kristus bila masih dalam keadaan berdosa.” Memori itu masih terekam di benak saya. Di desa saya, selalu diadakan pengakuan dosa sebelum Misa. Belum lama ini, di Solo, saya akan mengaku dosa, dan ternyata sebelum itu diadakan Perayaan Ekaristi. Umat yang akan mengaku dosa sekitar 200 orang. Anehnya, mereka semua bersemangat menyambut komuni. Saya tetap bertahan tidak menerima Tubuh-Nya, meskipun dosa saya ringan. Apakah larangan di atas masih berlaku? Mengapa pastor memberi komuni menjelang pengakuan? Apakah orang berdosa boleh menyambut komuni? Mohon penjelasan.

Indaryanto, Solo

Pertama, larangan itu masih tetap berlaku sesuai dengan ajaran Paulus: ”Karena itu, hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan…” (1 Kor 11:28). Paulus secara keras mengingatkan agar jangan menyambut Tubuh dan Darah Tuhan dalam keadaan berdosa. Namun, perlu diingat bahwa yang dimaksud ”keadaan berdosa” itu ialah keadaan orang yang mempunyai dosa berat (bdk HIDUP, No 04, 25 Januari 2009). Jika Anda hanya memiliki dosa ringan, kiranya upacara tobat pada awal Perayaan Ekaristi bisa menjadi sarana pembersihan dosa itu sendiri sehingga Anda tetap bisa menerima komuni.

Kedua, perlu juga disadari bahwa Perayaan Ekaristi itu sendiri juga mempunyai kekuatan untuk pengampunan dosa-dosa ringan. Persatuan kita dengan Kristus memberikan kekuatan untuk menghapuskan dosa ringan. Persatuan dengan Kristus melalui Ekaristi sekaligus juga ”membersihkan kita dari dosa yang telah dilakukan dan melindungi kita terhadap dosa-dosa baru” (KGK 1393).

Dan sekali lagi Katekismus secara lebih eksplisit mengemukakan: ”Seperti halnya makanan jasmani perlu untuk mengembalikan lagi kekuatan yang sudah terpakai, demikianlah Ekaristi memperkuat cinta yang terancam menjadi lumpuh dalam kehidupan sehari-hari. Cinta yang dihidupkan kembali ini menghapus dosa ringan. Kalau Kristus menyerahkan Diri-Nya kepada kita, Ia menghidupkan cinta kita dan memberi kita kekuatan, supaya memutuskan hubungan dengan kecenderungan yang tidak teratur kepada makhluk-makhluk dan membuat kita berakar di dalam Dia” (KGK 1394).

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*