Artikel Terbaru

Putri Patah Hati

[Ilustrasi/HIDUP]
Putri Patah Hati
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comPengasuh yang baik. Putri saya (20) mengurung diri di kamar karena diputus pacarnya. Cowoknya adalah kawan sekelasnya waktu SMA. Mereka berpacaran sejak dua tahun lalu. Putri saya sangat terpukul. Sejak peristiwa itu ia sering bolos kuliah. Sebagai orangtua saya prihatin. Lalu, apa yang harus saya lakukan?

Ny Srini, di kota S

Bu Srini yang terkasih, diputus cinta bagi sebagian orang menyakitkan. Istilah ”patah hati” sebagian besar menunjuk pada akibat dari perlakuan ”diputus” ini. Mengapa ada orang yang bisa bersikap wajar, atau sebaliknya merasa terpukul dalam menghadapi realitas diputus cinta? Itu tergantung banyak hal: pemaknaan, lama dan intensitas hubungan yang terjalin, psikologis-kepribadian, dan alasan pemutusan hubungan.

Pemaknaan yang mendalam terhadap ”kehadiran” (fisik dan batin yang sering sulit dipilahkan) figur pribadi yang spesial (baca: pacar) dalam kehidupan seseorang yang sering beriringan (dan ”berkomplikasi”) dengan lama, serta kedalaman hubungan kadang menjadi faktor dominan mengapa peristiwa ”putus”, apalagi ”diputus secara sepihak” bisa mengguratkan derita batin yang tak tertanggungkan.

Faktor psikologis-kepribadian (temperamental sabar, introvert-ekstrovert, pesimistik-optimistik, sensitif-netral, pengalaman traumatis ditolak/dilecehkan-romansa diterima/dihargai) akan berperan sebagai penyeimbang atau sebagai pemberat penghayatan terhadap peristiwa tersebut.

Alasan pemutusan (konflik interpersonal, adanya ”lain hati”, cemburu buta, ketidaksetujuan keluarga pihak ”pemutus”) pun bisa turut mempengaruhi. Perasaan terpukul pada putri Ibu boleh jadi sebagian bernuansa psikologis yang berkomplikasi dengan hal-hal lain yang sejauh ini mungkin hanya cowoknya dan putri Ibu yang tahu.

Pertama, memahami. Untuk memahami, singkirkan dulu analogi perasaan yang rujukannya kisah masa lalu Ibu. Putri Ibu nyatanya tidak sama dengan Ibu saat mengalami ”diputus”. Bagi Ibu, pengalaman ”diputus” sudah terlampaui, dan Ibu tahu itu hanya percikan kecil lumpur masa lalu. Namun, bagi putri Ibu, realitas ”diputus” ini aktual. Pahami bahwa putri Ibu tengah menghayati getirnya perasaan.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*