Artikel Terbaru

St José Luis Sánchez del Río: Tarsisius dari Meksiko

Paus Fransiskus berziarah di pusara St José Luis Sánchez del Río di Gereja Hati Kudus Yesus Sahuayo, Meksiko, saat kunjungan apostolik ke Meksiko.
[radiovaticana.va]
St José Luis Sánchez del Río: Tarsisius dari Meksiko
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.comBersama pejuang Christeros, Jose berperang melawan pemerintah yang mengintervensi Gereja. Ia tertangkap dan dipaksa menanggalkan iman.

Tanpa telapak kaki, Jose dipaksa berjalan menuju tempat eksekusi. Kedua kakinya buntung dipotong tentara pemerintah menjelang eksekusi mati. Ia meraung kesakitan, menahan sakit yang tak terperi.

Para eksekutor memukuli, meludahi dan menelanjangi Jose. Baru berjalan sebentar, ia jatuh akibat sepakan para penganiaya. Ia berusaha bangkit dan menyelesaikan jalan salibnya.

Di tempat eksekusi, para eksekutor menawarkan pembebasan, asalkan Jose mau menyangkal imannya pada Kristus. “Berteriaklah, Kristus Raja telah mati! Apakah Dia bisa menyelamatkan kamu?” seru gerombolan yang mengaraknya. José membalas cercaan itu, “Aku tidak akan pernah menyerah. Viva Cristo Rey! (Hidup Kristus Raja!)”

Kata-kata José memancing kemarahan mereka. Mereka segera menusuk tubuhnya berkali-kali dengan bayonet. Memandang bocah itu masih berdoa, kepala pasukan naik pitam. Ia mengambil pistol dan menembak kepala José. José pun terkapar tak bernyawa sambil memeluk sebuah salib. Ia wafat pada 10 Februari 1928 saat masih berusia 14 tahun.

Melawan Pemberontak
José Luis Sánchez del Río berasal dari keluarga Katolik saleh di Meksiko. Keluarga Jose tekun dalam doa. Berjumpa dalam lingkaran kasih dengan keluarga menjadi kesempatan berharga bagi José kecil untuk mengenal Kristus.

Kelahiran Sahuayo, Michoacán de Ocampo, Meksiko, 28 Maret 1913 ini sangat mengagumi Kristus sejak kecil. Yesus menjadi tokoh idolanya. Ia selalu bertanya pada ibunya, “Mengapa Yesus harus menderita demi manusia?” Bocah itu pun menyimpulkan, Kristus menderita karena dosa manusia.

Cintanya pada Yesus membuatnya selalu berhati-hati dalam bertindak. Sejak kecil, José terbiasa hidup saleh. Ia takut mengecewakan Kristus dengan dosa dan kenakalannya. Ia membangun niat, suatu saat akan melawan para pendosa yang menyebabkan Kristus menderita.

Suatu hari, José berkata kepada ibunya, “Aku ingin melawan para pendosa yang menyebabkan Kristus menderita.” Sang ibu berpikir, kata-kata ini sekadar ungkapan seorang bocah. Ternyata, José sungguh menjalankannya.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*