Artikel Terbaru

Inkulturasi Pohon Pisang

Inkulturasi Pohon Pisang
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Kita bersyukur atas proses terjadinya inkulturasi dengan terjemahan Kitab Suci ke dalam Bahasa Indonesia. Dengan demikian kristianitas sungguh menjiwai umat yang membaca Kitab Suci. Perlu diingat bahwa Bahasa Indonesia yang digunakan hari ini berakar pada Bahasa Melayu, dengan serapan dari Bahasa Sansekerta, Arab, bahasa lokal, misalnya Jawa dan bahasa asing (Belanda, Portugis, Latin dan Inggris). Mengadakan terjemahan tidaklah mudah. Sekurang-kurangnya terdapat dua cara terjemahan. Cara yang pertama disebut formal correspondence yaitu terjemahan harafiah. Cara yang kedua disebut dynamic correspondence, yakni terjemahan yang lebih menekankan hikmah pesan Kitab Suci.

Dalam cara yang pertama, penerjemah sedapat mungkin berusaha memindahkan seluruh teks asli ke dalam Bahasa Indonesia. Maka sangat diperhatikan teksasli. Akibatnya, terjemahan cenderung kurang jelas bagi pembaca, kurang lancar, bahkan tata bahasa Indonesia sering diabaikan. Perlu diingat sebelum Konsili Vatikan II, pimpinan Gereja agak hati-hati terhadap penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa setempat. Maka Kitab Suci tetap tertulis dalam bahasa Latin yang hanya dipahami para imam. Akan tetapi Konsili Vatikan II memberi kesempatan terjemahan ke dalam bahasa umat, asal saja terjemahan yang tepat (DV, 22, juga dalam Liturgi 1969: dokumen comme le prevoit).

Cara terjemahan yang kedua tidak terlalu mengutamakan teks asli dalam arti harafiah, akan tetapi lebih fokus pada Bahasa Indonesia dan umat Kristiani di Indonesia. Sangat diperhatikan hikmat-message dari Kitab Suci agar sesuai dengan konteks dan dapat dipahami umat Kristiani di Indonesia. Maka bisa saja beberapa hal yang dinilai sekunder justru dihilangkan dan beberapa hal disesuaikan dengan bahasa dan budaya Indonesia. Bahkan agar lebih mudah dipahami, Kitab Suci diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari (common language translation).

Sejarah mencatat bahwa Kitab Suci telah lama diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. Injil Mateus telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Malayu Klasik tingkat tinggi oleh Cornelis Ruyl yang didukung oleh VOC dan diterbitkan pada tahun 1629. Ruyl menggunakan bahasa Melayu, dengan serapan Bahasa Arab dan Sansekerta yang dipahami orang pada zaman itu. Sangat menarik misalnya Ruyl menerjemahkan kata “pohon ara” dengan “pohon pisang” (Mat. 24:32). Kata “serigala” diterjemahkan dengan “harimau” (Mat. 10:16; 21:19-21; 24:32). Rupanya Ruyl memakai metode terjemahan dynamic correspondence, agar pembaca berbahasa Melayu sungguh memahami pesan inti Kitab Suci. Perlu diingat, pada waktu itu pohon ara tidak tumbuh di Indonesia. Demikian juga umat Kristiani berbahasa Melayu pun tidak mengenal serigala.

Semua daun ara gugur pada musim dingin dan mulai bersemi lagi pada bulan Februari dan lebih nampak pada bulan April. Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Mrk. 11:13-14; 20-26). Secara simbolik dapat dikatakan bahwa Yesus kecewa dengan Israel pada waktu itu yang tidak menerima Mesias dan tidak melaksanakan kehendak Allah. Orang Yahudi hanya memperhatikan hukum- legalistik yang berakibat tidak menghasilkan buah spiritualitas sejati. “Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di Surga mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahan kamu” (Mrk. 11:25).

Ruyl menerjemahkan “serigala” dengan “harimau” atau “pohon ara” dengan “pohon pisang” tentu saja dengan alasan yang mendasar. Pohon pisang misalnya bisa punya makna yang amat mendalam. Pohon pisang tumbuh perlahan-lahan, walaupun ditebang bertumbuh lagi, sampai akhirnya berbuah. Setelah berbuah barulah mati. Yesus tentu saja kecewa dengan pohon pisang yang tidak berbuah. Seperti

Ruyl, kita pun harus berani melaksanakan transformasi mendalam dari nilai-nilai budaya asli yang diintegrasikan ke dalam kristianitas dan penanaman kristianitas ke dalam aneka budaya manusia yang berbeda-beda” (De Liturgia Romana et Inculturatione, no. 4).

RD Jacobus Tarigan

Sumber Tulisan: Majalah HIDUP Edisi 12 Tanggal 20 Maret 2016

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*