Artikel Terbaru

Konflik Pendirian Gereja

Konflik Pendirian Gereja
Mohon Beri Bintang

HIDUPKATOLIK.com – Pelaku penolakan pendirian gereja bisa dikategorikan dalam tiga kelompok utama. Kelompok pertama bermotif ekonomi. Mereka lebih tepat disebut gerombolan daripada kelompok, karena begitu uang sudah didapatkan, mereka akan bubar. Gerombolan ini bersifat cair, tidak memiliki ikatan dengan organisasi apapun. Pun jika ada keterikatan dengan organisasi tertentu, hanya dimanfaatkan sekadar sebagai legitimasi formal guna menunjukkan kepada khalayak bahwa mereka gerombolan berwujud.

Penyelesaian akan lebih mudah jika berhadapan dengan kelompok yang memiliki motif ekonomis ini. Negosiasi yang dibangun akan lebih menentukan besaran uang yang diminta. Jika sepakat, semua selesai, namun tentu menjadi rumit manakala dihadapkan dengan pembangunan gereja. Bagaimana masa depan gereja itu jika pada awal pembangunan sudah menyuap dengan pihak yang berseberangan?

Motif ekonomi juga bisa muncul ketika pihak internal Gereja bersikap eksklusif. Misal tentang pengelolaan lahan parkir. Di beberapa paroki, lahan parkir diserahkan kepada masyarakat sekitar gereja. Tapi ada pula yang dikelola sendiri oleh pihak paroki atau ditangani orang-orang yang kebetulan satu daerah dengan pengurus Gereja.

Pun saat gereja direnovasi. Kontraktor membawa bahan bangunan sendiri. Jalan di sekitar gereja sekadar dilewati truk-truk material, sementara ada beberapa toko bangunan di sekitar gereja. Motif-motif ekonomi ini dapat menjadi pemicu penolakan terhadap gereja, walaupun gereja tersebut sudah berdiri lama di wilayah itu.

Kelompok kedua karena pertarungan politik lokal. Misal dahulu walikota atau bupati sudah mengeluarkan izin pembangunan gereja, lantas ada pemilihan kepala daerah baru. Kebetulan camat di mana lokasi gereja tersebut berada ikut meramaikan bursa kepala daerah baru. Sang walikota atau bupati petahana melawan si camat. Jurus politik bisa dimainkan kedua pihak untuk membatalkan izin pembangunan gereja.

Pada kasus kedua ini, penyelesaian juga relatif mudah. Ketika suhu politik mereda dan kepala daerah baru sudah terpilih, terbuka ruang negosiasi mengurus kembali izin pendirian gereja. Keterampilan negosiator mutlak diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini.

KOMENTAR ANDA:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*